Skip to main content

Salam Tahun Baru Dari Salatiga

2011/www.tprone.com
Tak terasa, kini kita telah memasuki hari pertama di tahun baru 2011. Dalam menyambut tahun baru ini, kita tak lepas dari bekal sejuta harapan agar dalam hari-hari tahun 2011 ini, dapat kita lalui dengan baik. Tentunya kita berdoa agar selalu berhasil dalam segala daya dan upaya sepanjang tahun 2011. Namun sesungguhnya, kita juga mesti bersiap mendapatkan masalah baru. Sepanjang perputaran waktu, kita tidak akan luput dari badai kehidupan. Kesiapan mental kitalah yang akan menuntun pada arah penyelesaian. 

Momentum pergantian tahun ditandai dengan kemeriahan. Sepertinya seluruh manusia di muka bumi ini menyambut tahun baru dengan penuh kegembiraan. Detik-detik menjelang pergantian tahun, langit di seluruh kota akan terang benderang karena pesta kembang api. Ada titik konsentrasi massa dimana seluruh kelas dalam masyarakat berbaur menyatu menyambut tahun baru dengan penuh keceriaan. 

Sebagai pendatang di Kota Salatiga, saya kemudian berkumpul dengan teman-teman seperatantauan. Kami ber-enam, semuanya berdarah etnis Toraja, sebutan untuk salah satu etnis di Provinsi Sulawesi Selatan. Melewati detik-detik pergantian tahun, kami berbaur bersama masyarakat Kota Salatiga di Lapangan Pancasila. Di sana sudah berkumpul ribuan manusia, menyemut memenuhi lapangan sembari menikmati hiburan dari pemusik. Semuanya satu tujuan yakni bersama-sama melalui detik-detik pergantian tahun, dan pastinya menyaksikan pesta kembang api. Setelah bubar dari lapangan Pancasia, bergabung lagi di bundaran Kaloka sebagai titik konsentrasi massa kedua. Bubar dari bundaran Kaloka, saya masih sempat gabung dengan teman-teman lain yang sudah menunggu di indekos. Kami menghabiskan malam tahun baru dengan banyak cerita. Semoga hal ini terus terjadi dalam tahun 2011 bahwa akan ada keceriaan dari lingkungan sekitar tanpa membedakan kelas.

Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada rekan, sahabat, saudara(i), orang tua dan semua yang telah memberikan doa dan semangat. Terima kasih atas semua pesan SMS yang telah dikirimkan kepada saya. Mohon maaf saya tidak sempat membalas semuanya. “Selamat tahun baru semuanya!

Salatiga, 01 Januari 2011

Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op