Sunday, August 9, 2015

Mirip Jeans

Mungkin saya adalah salah satu penganut prinsip hidup cowboy semasa saya kuliah. Yeah, dari sisi koleksi celana jeans, saya punya hanya beberapa. Dan bisa jadi orang yang sering ketemu saya di jalan atau dimanapun akan komentar, itu celana saya yang itu-itu saja. Tidak masalah, namanya anak rantau lagi cari ilmu, penampilan boleh monoton tapi otak tetap harus diasah.

Saya punya salah satu celana panjang jeans yang sangat favorit selama kuliah, dan saya paling rajin pakai celana itu. Kemana-mana dipakai, ke kampus, ke ruang meeting, ke gereja dan buat jalan-jalan, dan mungkin pernah saya pakai naik gunung. Karena sangat sering saya pakai, hingga timbullah efek belel alami di bagian paha dan lutuh. Memang terbukti bagi saya, bahwa kain jeans semakin lama semakin eksotis dan itu yang terjadi pada celana jeans kesukaan saya.

Celana itu masih saya simpan hingga saat ini, dengan maksud akan saya museumkan suatu saat. Maksudnya disimpan sebagai bukti bahwa saya pernah berjuang jauh-jauh mengasah otak di kampung orang (Salatiga). Saat itu jika saya memakainya masih sangat longgar hingga butuh sabuk pinggang, sekarang sudah agak sempit, nah.

Terinspirasi dari kata-kata filsuf Aristoteles, “setiap barang pasti memiliki lebih dari satu kegunaan”, maka muncul dalam ide saya untuk memotongnya dan dijadikan celana pendek untuk dipakai di rumah ataupun untuk bersantai di luar. Akhirnya celana itu saya potong dan Aristoteles benar.

Kenangan bagi seseorang bisa saja termanifestasi dalam rupa barang, sama seperti saya kenangan-kenangan saya selama kuliah lebih banyak termanifestasi dalam jeans favorite saya. Dan sekarang saya bisa memakainya kemana-mana seperti dulu.

Mirip dengan jeans, hubungan baik kita dengan orang-orang di sekeliling sangatlah berharga. Tanpa orang lain kita tidak bisa hidup sendiri. Maka dari itu, hargailah dan jagalah hubungan perkenalan, perteman, persabahatan dan model apapun kita berhubungan dengan orang lain. Orang lain akan tetap menyimpan kita dalam ingatannya semampunya ia. Tidak akan mudah untuk membuang memori-memori yang berharga, tentulah ia akan mengambil tempat baik dalam hati orang-orang. Jeans itu kuat, tahan terhadap berbagai macam medan, semakin lama terpakai akan tampak semakin eksotis. Setelah jeans panjang dipotong menjadi celana pendek, ia masih berfungsi dengan baik. Penghargaan kita terhadap orang-orang di sekitar kita tidak akan mudah luntur dalam benak mereka.

Ambon 8  Agustus 2015.

Wednesday, April 9, 2014

Kado

Beberapa hari lalu saya memang berulang tahun, yeah ke-26. Sangat muda kan?.. haha. Hampir setiap orang yang berulang tahun mengharapkan kado terindah dari orang-orang terdekatnya. Paling tidak ucapan selamat ulang tahun, itu sudah merupakan pemberian kado yang masih belum bisa dihargai hingga sekarang. Artinya, masih ada orang dekat yang memberi perhatian. Kita ini manusia, tidak akan bisa lepas dari perhatian orang lain, terkhusus orang-orang terdekat di sekitar kita. 

Saat saya berulang tahun, posisi saya masih berada di Kota Ambon, sangat jauh dari keluarga yang ada di Sulawesi. Sama juga dengan kekasih saya di Makassar, jauh. Tapi tetap semangat, hidup ini takkan terasa jika dijalani tanpa semangat, semangat untuk hidup tentunya. 

Ada kado yang memeriahkan ulang tahun saya. Saya memberikan kado untuk ibu saya sendiri, sebuah tas, cukuplah untuk ke Gereja atau untuk keperluan formal lainnya. Kok saya yang ulang tahun justru saya yang memberikan kado?. Yah itu adalah cara saya agar orang terdekat saya bisa senang, bahagia, bukan hanya saya yang merasakannya, namun mereka juga.

Nah, kado untuk saya ada juga, dan sangat istimewa. Saya dapat sebuah surat elektronik dari kekasih hati saya yang ada di Makassar. Isinya sangat romantis dan sangat menyentuh hati saya ketika membacanya. Sayangnya, tidak bisa saya bagikan di sini. Bagi saya, itu adalah sangat istimewa.

Sekedar cerita dari saya, untuk anda yang kebetulan berkunjung ke blog pribadi ini. Selamat malam.

Ambon, 10 April 2014

Tuesday, March 4, 2014

Ambon Speedtest

Setelah sekian lama saya tidak terkoneksi dengan internet melui komputer, akhirnya saat ini bisa juga merasakannya. Berbekal sebuah modem SpeedUp dengan bundling Telkomsel, dunia maya bisa dirambah dari Kota Ambon. 

Kenapa saya pilih modem karena di kota Ambon sangat susah memanfaatkan hot spot. Ruang publik yang didukung hot spot sangat jarang, hanya ada di beberapa kedai kopi. Seperti yang kadang saya memanfaatkannya di kedai kopi Shibu-Shibu. Tapi speednya sangat lamban, jangan harap bisa membuka email dengan leluasa, membuka satu buah tab di browser saja beratnya minta ampun. Download speed hanya berkisar di angka 20-30 kbps. 

Kalau dengan modem SpeedUp, speed lumayan mendukung. Berikut screenshot saat saya melakukan speed test. Speed test dilakukan di kamar sekitar pukul 23.00 waktu Ambon. Download speed 0.07 Mb/s & Upload speed 0.28 Mb/s. Sangat menyakitkan kalau mau dibandingkan dengan speed yang tertera di pack modem. Up to 21 Mbps. Tapi kalau di Indonesia, jangan harap speed download bisa segarang itu, kecuali kalau pindah ke Korsel sana. 

Kemudian saya lakukan speed test lagi pada pagi hari, pukul 06.00 waktu setempat. seperti tertera di gambar di samping. Download speed 1.82 Mb/s & Upload speed 0.23 Mb/s. Untuk urusan speed pada jam pagi, sudah lebih dari cukup untuk urusan browsing dan download. 


Jadi kesimpulannya, kalau mau speed >1 Mb/s, lakukan lah pada subuh/pagi hari. 


Ambon, 4 Maret 2014

Tuesday, September 10, 2013

Ambon dan Pesona Pulau Osi

Kota Ambon adalah kota yang menyuguhkan begitu banyak pesona alam. Indahnya panorama alam tersebut mulai tersaji ketika seseroang terama kali memasuki Kota Ambon. Ada jalur laut serta udara yang biasa digunakan untuk memasuki kota Ambon. Saya kebetulan baru kali ini, baru pertama kali menginjakkan kaki di “negeri para Raja” ini. Seperti tulisan saya sebelumnya, keindahan alam pertama kali tersaji ketika pesawat yang ditumpangi bersiap-siap mendarat di Bandara Pattimura. Di luar sana akan terlihat birunya air laut serta rimbunnya pepohonan di daratan. Terlihat jika alamnya belum banyak dijamah manusia. Sungguh indah. Berbeda ketika saya pertama kali ke Kota Palangkaraya, ketika pesawat yang saya tumpangi sebentar lagi mendarat, di bawah sana terlihat titik-titik gundul bekas penebangan pepohonan. Sangat tidak menyejukkan hati.

Kembali ke Ambon. Tepatnya pulau Ambon adalah salah satu pulau terpenting dalam jajaran kepulauan Provinsi Maluku. Ibu kota provinsi berada di pulau Ambon. Bagian Barat laut Pulau Ambon ada pulau besar bernama Pulau Buru, sedangkan di bagian Timur berjejer pulau Haruku, Pulau Saparua, Pulau Nusa Laut hingga pulau Seram yang merupakan pulau terbesar dari jajaran pulau tadi. Indahnya panorama alam banyak tersaji di pulau-pulau tersebut.

Pelabuhan Ferry Liang
Kali ini saya berkesempatan mengunjungi pulau Osi. Saya ke sana bersama dengan teman-teman kerja saya pada tanggal 19-20 Agustus lalu. Pulau Osi terletak di ujung barat pulau Seram. Perjalanan darii Ambon ke Pulau Osi melalui jalur laut dan darat. Pertama-tama perjalanan ditempuh melalui jalur darat dari Kota Ambon kea rah Timur menuju ke pelabuhan Ferry di daerah Liang. Perjalan darat memakan waktu sekitar 1 Jam. Di Pelabuhan Liang, sudah ada Ferry yang Stand By menunggu penumpang, tiap jam ada penyebrangan. Ferry pertama akan mengangkut penumpang pukul 7.00 WIT dan ferry kedua akan berlayar pukul 08.00 WIT. Kami ikut di ferry kedua. Tiket untuk menyebrang Laut Banda dikenakan sebesar Rp.12.000 per kepala. 

Salam dari Maluku

Ini adalah salam dari lubuk hati yang paling dalam, “Salam dari Ambon”. Setelah kurang lebih sebulan saya berada di Karawaci, Tangerang, kini sekarang saya berada di Kota Ambon, Maluku. Sebenarnya sudah lama, sejak tanggal 30 Maret 2013 yang lalu. Saya ditempatkan di kota ini karena pekerjaan.

Ambon dan mendungnya
Tak pernah terbayang sebelumnya. Ambon itu indah, sungguh. Memang Tuhan sungguh luar biasa menjadikan Ambon sebagai kota yang eksotis dengan panorama alamnya. Pertama kali keindahan itu terpampang ketika pesawat mulai memasuki Teluk Ambon. Hutan yang terlihat dari udara masih asri, pegunungan masih terlihat indah dengan pepohonannya serta laut yang membiru bersih. Sangat tenang rasanya melihat pemandangan seperti itu.

Kota Ambon terbentuk seperti letter U, mengikuti alur Teluk Maluku. Pintu masuk lewat transportasi udara yakni Bandara Pattimura terletak jauh dari kota, berada pada ujung letter U sebelah Barat. Perjalanan darat dari Bandara ke Kota Ambon masih membutuhkan waktu sekitar 45 menit.

Monday, March 11, 2013

Sesaat di Makassar

Hanya sesaat. Itulah yang saya rasakan ketika menulis catatan ini. Bagi saya, sebagai parameter untuk boleh dikatakan lama tinggal di suatu tempat apalagi Makassar adalah bertahun-tahun atau seterusnya menetap di situ. Tapi apa yang terjadi saat saya menginjakkan kaki di Kota Makassar beberapa waktu lalu. Hanya 6 hari saya tinggal di sana. Padahal, kepala saya sudah banyak berisi rencana-rencana ke depan di Kota Makassar. 

Jl. Perintis Kemerdekaan ke arah kota.
Saya ke Makassar pada tanggal 28 Februari 2013 lalu. Tinggal (numpang) bersama keluarga di Asrama Lompobattang (Zipur), Jl. Rajawali. Hari-hari yang saya lalui di sana sangat menyenangkan karena itulah yang saya pikirkan ketika tinggal di Surabaya, menetap di Makassar.

Saya kembali ke Makassar setelah lebih dari setahun saya meninggalkannya. Bulan Januari tahun 2012 saya meninggalkan Kota Makassar dan merantau kembali ke Surabaya. Saat itu saya berfikir bahwa kemanapun saya mencari jalan dan kesempatan untuk meniti masa depan tidak menjadi masalah yang penting saya bisa  kembali ke Makassar.