Skip to main content

Pengakuan yang tulus


Mengakui mengandung makna bersiap terhadap segala konsekuensi yang akan timbul dari keputusan pengakuan itu. Disamping bicara mengenai pengakuan tulus, ada juga pengakuan tidak tulus yang hanya bermodalkan retorika. Hanya dinyatakan lewat ucapan kemudian menjadi pengakuan semu, palsu. Jika dikaitkan dengan teologi Alkitabiah, pengakuan umat berarti mengakui bahwa Yesus adalah Mesias. Pengakuan ini bertalian erat dengan iman dan dalam menjalaninya bersiap melakukan segala perintah-perintahNya. Itulah yang menjadi fondasi dibangunnya jemaat Kristus. Kesemuanya itu adalah catatan kritis dari hasil PA (Pendalaman Alkitab) kami sore tadi. 

PA kali ini kebetulan saya yang pimpin. Kami hanya berempat, jadinya saya memimpin tiga orang dalam mendalami Alkitab. Sama-sama belajar, bukan berarti saya memimpin karena saya lebih mengerti. Awalnya mengundang rekan-rekan lain, tapi mungkin saja kali ini mereka semua sibuk dengan urusan lain. PA ini adalah bagian dari aktivitas GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), tahun baru ini untuk ketiga kalinya diadakan. Diadakan sekali seminggu, sebelumnya sudah dua kali dilaksanakan. Pertemuan pertama diikuti sekitar 10an orang, pertemua kedua diikuti 14 orang dan tadi sore empat orang saja. Secara kuantitas, itu adalah bilangan yang kecil tapi kami tetap jalan sesuai rencana. Yakinlah bahwa dimana ada satu atau dua orang bertemu disitulah Yesus berada. Yesus Kristus tidak menuntut orang banyak untuk memuliakan Dia tetapi menginginkan setiap orang yang lapar akan makanan rohani untuk datang kepadaNya.

Baru kali ini juga saya memimpin sebuah PA, kalau berkhotbah dalam ibadah sebenarnya sudah lebih dari sekali. Saya mencoba menggali teks dalam Matius 16:13-20, menginterpretasiakannya, mengkontekstualkannya kemudian kami diskusikan.  

Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op