Skip to main content

Natal Tongkonan Toraya Semarang

Tidak ada batasan waktu untuk menyampaikan pesan Natal kepada semua manusia. Kabar gembira mengenai kedatangan Kristus ke dunia ini untuk menebus dosa manusia tetap menjadi misi orang percaya sepanjang masa. Bukan hanya pada momentum Natal secara seremonial yang jatuh pada tanggal 25 Desember. Selain tanggal 25 Desember pun bisa diadakan ibadah Natal. Tongkonan Toraya Semarang melaksanakannya pada tanggal 22 Januari 2011.

Tongkonan Toraya Semarang adalah wadah bersama untuk bersekutu bagi orang-orang etnis Toraja yang tinggal di kota Semarang dan sekitarnya. Kalau di Kota Salatiga sendiri ada PKMST (Persekutuan Keluarga Mahasiswa dan Siswa Toraja) sebagai wadah persekutuan etnis Toraja yang tinggal di Salatiga. Biasanya kalau Tongkonan Toraya Semarang melaksanakan sebuah kegiatan, pasti akan mengundang PKMST. Ini karena, masih ada ikatan emosional orang Toraja Semarang dengan orang Toraja Salatiga serta jarak Semarang dan Salatiga masih relative dekat.

Ibadah Natal dilaksanakan di gedung pertemuan samping Java Mall Semarang. Nama tepatnya saya lupa heheheh.. Kami juga datang terlambat ke sana., sebelumnya teman-teman PKMST sudah duluan jalan. Setelah semua rangkaian acara selesai, waktunya untuk sikat pa’piong. Pa’piong adalah makanan khas Toraja. 

Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op