Skip to main content

Karena Merapi, saya batalkan rencana seminar

UNY Yogyakarta akan melaksanakan Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika pada tanggal 27 November 2010. Sebuah makalah sederhana sudah saya siapkan untuk menjadi salah satu penyaji makalah pada seminar ini. Tapi karena pertimbangan bahaya erupsi Merapi, maka saya putuskan untuk membatalkan keikutsertaan dalam seminar. Teman lain pun demikian. Dosen-dosen juga, mereka masih kwahatir akan bahaya erupsi Merapi.

Seminar nasioal menjadi salah satu media bagi para peneliti tanah air untuk saling berbagi ilmu dan pengetahuan. Yang diangkat dalam seminar tersebut merupakah hasil-hasil penelitian dari dari para pakar. Mereka yang terlibat langsung didalamnya bukan hanya dari kelompok pakar, ada juga dari praktisi, pemerhati, pendidik dan pastinya mahasiswa.

Saya sendiri mengikuti seminar ini mewakili pihak mahasiswa. Akhirnya berani member label ‘mahasiswa’ pada diri sendiri hehehehhehe…… ;). Biasanya juga sungkan. Apalagi kalau ada titel di belakang, tambah sungkanlan nantinya. Karena menurutku mahasiswa itu adalah sosok yang punya idealisme kuat. Dia akan mati-matian memperjuangkan apa yang diyakini sebagai sebuah kebenaran, dan berani menentang yang salah. Itu adalah jiwa mahasiswa. Kalau saya sendiri masih merasa belum berjiwa seperti itu, makanya sungkan menyebut diri sebagai mahasiswa. 


Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op