Skip to main content

Gara-gara kopikah?

Menjelang larut malam kemarin saya sempatkan minum kopi. Hanya satu gelas sedang, tapi efeknya luar biasa. Saya tidak bisa tidur dibuatnya. Buset niy kopi, manjur amat! apa yang salah yah, "ah munkin gara-gara panci yang kupakai rebus air kali.. wkwkw :P" otak saya coba mikir konyol.

Biasaya pukul 00.00 WIB adalah waktu maksimal saya melek, setelah itu baru tidur. Saat ini sudah pagi tapi masih belum mengantuk. Memang ada beberapa hal yang harus saya sikat malam ini (*bukan nyikat kamar mandi tetangga), yakni makalah yang harus saya selesaikan secepatnya. Semalaman gak cuman kerja makalah doank, kadang sempatkan diri melihat perkembangan erupsi gunung Merapi. Tadi malam diberitakan menjelang pukul 00.00 WIB gunung Merapi terus beraktivitas. Kota Yogyakarta kini berada pada status siaga I. Kondisi ini membuat masyarakat luas khawatir. Kasihan mereka yang mengungsi di tengah malam. Dari live streaming salah satu stasiun TV swasta saya menyimak berita pengungsian warga, suara reporter yang melaporkan kedengaran seperti orang nyaris menanis. Saya sempat dapat pesan SMS dari paman, diminta hati-hati di Salatiga karena gunung Merapi meletus lagi. "Ok bos," jawabku. Berikut gambar gunung Merapi sedang beraktifitas. 
Aktivitas Merapi (Sumber : VIVAnews)
Kopinya ngefek banget cui..! sampai-sampai bisa begadang kek gini. Biasanya juga tepar jam12an malam kalau ga ngopi. Kalau kondisi sudah tepar, semuanya berantakan dalam kamar. Posisi tidur terbalik, pintu terbuka tidak tertutup rapat - kunci pintu masih menggantung di luar, posisi komputer serba salah, sempat nendang gitar yang berdiri di posisi belakang saya tidur hingga komputer nyaris tertimpuk. bodok, bodok, bodok..!!

Sudahi dulu catatan ini.

Mari mendoakan korban bajir bandang Wasior, korba tsunami Mentawai dan korban erupsi gunung Merapi.

Pray For Indonesia

Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op