Skip to main content

Wakil rakyat perlu merakyat

Anggota Dewan

Di belahan dunia manapun juga, pasti rakyat dari suatu Negara berharap akan diperhatikan oleh wakilnya yang duduk di kursi parlemen. Ini adalah harapan dari hati nurani rakyat kecil terlebih ketika rakyat sedang dilanda berbagai persoalan hidup. Hal yang sederhana tetapi kadang ini hanya sebatas harapan.

Di Indonesia pun demikian, terlebih lagi wakil rakyat di negeri ini telah dipilih secara langsung untuk mengemban tugas dan amanat memperjuangkan aspirasi masyarakat di parlemen. Pada saat rakyat kesusahan, dalam benak kecil mereka akan terbersit pertanyaan : “dimakakah wakil rakyat yang dipilih kemarin itu?”. Ini wajar karena pada saat kampanye (Pileg) para Caleg meyakinkan konstituennya dengan berbagai janji dan komitmen. Pada saat terpilih, kini waktunya untuk menunjukkan komitmen sebagai wakil rakyat. Paling tidak itulah yang diinginkan oleh konstituen.

Kita melihat berbagai masalah telah melanda masyarakat Indonesia saat ini. Gempa bumi, Tsunami, banjir bandang, gizi buruk, marginalisasi pendidikan, penggusuran hingga letusan gunung merapi beruntun terjadi. Pada kondisi inilah masyarakat sangat membutuhkan perhatian serius dari para wakilnya baik yang bertugas di pusat maupun daerah.


Namun saat ini bergagai fenomena yang meciderai hati rakyat kecil terjadi, misalnya pada saat rakyat sedang berjuang dalam kesusahan, justru para wakil rakyat pelesir ke luar negeri. Para wakil rakyat semakin getol mengagendakan kunjungan ke Negara lain dengan biaya tak sedikit, walaupun dapat dimaklumi bahwa tujuan kunjungan tersebut adalah mempelajari rekam jejak Negara lain yang telah menjalankan pola parlemen yang baik, untuk selanjutnya diterapkan di negeri ini. Namun yang menjadi pertanyaan adalah wajarkah hal itu dilaksanakan pada saat rakyat kecil sedang kesusahan?. Pertanyaan mendasar tapi sayang kadang dikesampingkan oleh wakil rakyat.

Uraian di atas mengingatkan kita pada lirik lagu dari musisi Iwan Fals demikian “…wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyati..”. Hal ini sederhana tetapi itulah harapan kecil dari rakyat yang telah memilih para wakilnya. Di sini ditekankan agar para wakil rakyat jangan malas mengikuti rapat-rapat yang ada terkhusus pada saat membicarakan masalah rakyat kecil. Jangan sampai ketiduran di sofa pada saat sidang!. Mengikuti rapat dan membicarakan masalah rakyat, itulah tanggung jawab moral yang diemban para wakil rakyat.

Tetapi ada pernyataan wakil rakyat yang menurut saya menggelitik. Pada saat Tsunami terjadi, Marzuki Ali justru berkomentar kurang simpatik terhadap apa yang dirasakan rakyat kecil. ”..Itu konsekuensi kita tinggal di pulaulah..”, demikian kutipan pernyataan itu. Mendengar pernyataan tersebut, wajar bagi masyarakat Indonesia untuk mengkritik Marzuki Ali. Beliau adalah simbol dari wakil rakyat, tidak sepatutnyalah mengeluarkan pernyataan demikian.

Seperti yang tersirat dalam syair di atas, wakil rakyat tak hanya perlu berapat ria di gedung parlemen. Menyelesaikan target Prolegnas yang seabrek, atau melakukan tugas-tugas untuk mengawasi kinerja pemerintah. Memang pada prinsipnya benar bahwa demikianlah tugas-tugas dewan yang harus dikerjakan, namun bukan berarti wakil rakyat hanya berkutat dalam gedung parlemen dengan berbagai fasilitas yang ada, akan tetapi dibalik itu masyarakat membutuhkan perhatian dari para wakil rakyat terlebih lagi bagi mereka yang menjadi korban bencana alam. Disamping pemerintah sebagai pelaksana tugas eksekutif yang dituntut untuk terjun langsung ke lapangan, maka para wakil rakyat juga perlu untuk melihat kondisi konstituennya yang sedang dilanda masalah.

Saat ini banyak elemen masyarakat yang mengungkapkan kekecewaan kepada wakil rakyat. Mereka menyampaikan kritik dan masukan tetapi para wakil rakyat terkesan mengenyampingkan hal itu. Di satu sisi wakil rakyat proaktif memperjuangkan penambahan fasilitas anggota dewan, sibuk mendiskusikan kenaikan tunjangan tetapi rakyat kecil masih merasakan kesusahan.

Kini dan seterusnya masyarakat tetap mendambakan wakil rakyat yang merakyat. Wakil rakyat yang meperjuangkan aspirasi masyarakat dan juga penuh perhatian pada masalah kesejahteraan konstituennya. Mengabdi kepada masyarakat tanpa embel-embel partai politik dan tanpa embel-embel pencarian citra, tetapi berbakti kepada mereka yang telah memberikan amanat untuk memperjuangkan aspirasi di gedung parlemen.
Inilah yang menjadi tantangan mendasar bagi para wakil rakyat dan bagi siapapun yang menginginkan posisi itu. Kita memahami bahwa menjadi wakil rakyat berarti memikul tanggung jawab moral yang tidak ringan, tidak seperti melamar pekerjaan pada perusahaan, memasukkan formulir lamaran, diwawancara kemudian dapat pekerjaan dan seterusnya mengabdi pada perusahaan sesuai visi-misi perusahaan itu. Wakil rakyat dipilih dari rakyat dan dituntut untuk kembali mengabdi kepada rakyat yang telah memilih.

Semoga pada kesempatan berikut, para wakil rakyat selain aktif menjalankan tugas sebagai anggota dewan tetapi juga penuh perhatian kepada rakyat yang telah memilih. Betul-betul memperjuangkan kemaslahatan rakyat banyak sesuai dengan janji-janji dan komitmen pada saat berkampanye dahulu.

Berharap ini bukan lagi sebatas syair tetapi lambat laun menjadi kenyataan.

Parman Pasanje
(Salatiga, 01 November 2010)

Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op