Skip to main content

Santai di Salatiga

"Salatiga sangat menyenangkan", itulah komentarku untuk kota ini, Kota Salatiga. Saya mencintai kota ini semenjak saya menginjakkan kaki disini tanggal 11 Agustus 2006 silam. UKSW tempat saya belajar berlokasi di kota ini.


Kota Salatiga, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah terletak 49 Km sebelah selatan Kota Semarang atau 52 Km sebelah utara Kota Surakarta, dan berada di jalan negara yang menghubungan Semarang-Surakarta. Salatiga terdiri atas 4 kecamatan, yakni Argomulyo, Tingkir, Sidomukti, dan Sidorejo. Berada di lereng timur Gunung Merbabu, membuat kota ini berudara cukup sejuk. Luas wilayahnya 17,87 km² dengan jumlah penduduk 176.000 (2007). Saya masih ingat waktu baru sampai di Kota Salatiga, waktu itu bulan Agustus tahun 2006. Airnya dingin sekali untuk mandi pagi, membuat saya menggigil di kamar mandi. Saat itu udara dingin Kota Salatiga masih sangat terasa, saat ini sudah agak panas. Mungkin pengaruh pemanasan global juga.


Sepeda Santai
Bundaran Kaloka Salatiga
Tadi pagi (11/20/2010) saya bersama teman-teman sempat jalan-jalan naik sepeda ke arah lapangan Pancasila.  Hiruk-pikuk Kota Salatiga sangat kelihatan pada pagi hari seiring dengan persiapan penduduknya untuk mulai beraktifitas. Terlihat lalu lintas yang padat, ada beberapa polisi lalu lintas mengatur kendaraan. Saya melemparkan senyum kepada pak polisi dan dibalas dengan senyuman pula. Memang warga Kota Salatiga dikenal ramah. 

Kami berjalan terus melalui Jalan Jend. Sudirman melewati bundaran Kaloka. Saya sambil menikmati pemandangan gunung Merbabu di arah kanan jalan. Viewnya sangat jelas, kebetulan pagi ini suasana cerah. Pemandangan Merbabu sangat cantik, membuat saya ingin kesana lagi. Sampai hari ini saya baru dua kali naik ke gunung itu. Teringat waktu pertama kali naik dengan modal nekad. Saat itu tanggal 11-12 Mei 2007. Saya mendaki bersama teman seangkatan FSM. Saya kebetulan sangat suka dengan pemandangan alam, apalagi jika menikmati alam yang masih 'alami'.

Kami meneruskan perjalanan ke arah Lapangan Pancasila. Di lapangan Pancasila, kami mengintari lapangan beberapa kali. Saya memperlambat laju sepeda sedangkan tema-teman yang lain agak cepat. Saya menikmati pemandangan lapangan Pancasila sambil bersepeda. Pagi ini kebetulan banyak warga bersantai di sini, mereka kebanyakan berolahraga sedangkan yang lain hanya duduk-duduk. Ada juga yang sementara menyapu trotoar di samping lapangan. Tenaga kebersihan itu menyapu sambil terus dihujani daun-daunan. Wah angin sialan!. Ada yang sempat pacaran juga. Pagi-pagi liat orang pacaran, sial!. Bosan keliling, saya mulai cari-cari kerjaan yang tidak penting, menghitung waktu yang digunakan mengelilingi lapangan satu putaran. Saya sambil bersepeda santai, satu kali putaran di stopwatch tercatat 0:02:40:44. Lama buanget!. Ya, ya donk,, saya sepedanya santai kok.

Lapangan ini menjadi tempat favorit warga Kota Salatiga untuk bersantai.  Pagi hari untuk olah raga, siang untuk menikmati jajanan ringan, sore untuk bersantai hingga bersantai pada waktu malam. Saya sendiri ke lapangan ini sudah sangat keseringan, lebih sering waktu malam. Kalau malam menikmati Idomie rebus telur dan minum kopi. Nongkrong sama teman-teman sampai larut malam, kadang sampai subuh. Pernah sampai jam 03.00 WIB. Buset!. Kuat nongkrong karena minum kopi sambil cerita kuliah, kampus, pacar, teman, keluarga sampai masalah negara. Kurang kerjaan? saya pikir tidak hehehee.

Capek keliling, kami istrahat di samping lapangan dekat tiang bendera. Saya duduk melihat ke tengah lapangan, sekeliling lapangan hingga ke arah gunung Merbabu yang samar-samar kelihatan karena dihalangi dedaunan pohon. Yang lain asyik ngobrol ngalor-ngidul wkwkwk, saya sesekali menimpali candaan teman-teman dan sesekali juga hayalanku beralih.

Saya mengingat lagi waktu baru jadi mahasiswa UKSW. Sebelum mengikuti kuliah reguler di semester pertama, ada kegiatan pra kuliah yang wajib kami ikuti. Kegiatan itu adalah Program Pengenalan Mahasiswa Baru (PPMB) dan salah satu programnya adalah kerja bakti membersihkan lapangan Pancasila. kegiatan kerja bakti itu berlangsung tanggal 25 Agustus 2006 silam. Lapangan pancasila dipenuhi ribuan mahasiswa baru UKSW, saya termasuk salah satu didalamya. Saya sempat minjam sapu lidi ibu kost untuk menyapu lapangan ini waktu itu.

Jiahh,, ingatanku malah ke situ..!,  hayalan saya berlanjut lagi, dalam waktu kurang dari satu tahun kedepan mungkin saya tidak menikmati pemandangan lapangan ini lagi. Saya sadar bahwa tidak selamanya saya akan berada di kota ini, suatu saat saya akan meninggalkannya mengingat saya adalah mahasiswa rantau di sini. Makanya puas-puasin lihat pemandangan indah di lapangan Pancasila selagi masih sempat. Huh, jadi sedih,, fiuh,,fiuh....!!. Yah, nanti sekali-sekalilah maen ke Salatiga. Ah, santai saja, di waktu dan kesempatan berbeda saya masih bisa menikmati pemandangan kota Paris dari atas puncak Eiffel atau bersantai di taman kota New York. yahhhh.... jauhhhhhhhhhhhhhhhh... hahahaha... padahal di Kota Palopo sendiri ada lapangan La Galigo sebagai tempat untuk bersantai atau pantai Marina?. hmmmm.....

Mulai bosan di lapangan Pancasila, kami putuskan untuk pulang. Balik ke arah kampus UKSW, mutar lagi di kampus satu kali dan terus ke lapangan basket. Sempat main sebentar. Saya tidak pintar main basket, huh,, payah..!,. Mending liatin mereka main, lapangannya lumayan ramai hari ini. Ada juga yang maen voly, di lapangan tennis terlihat beberapa dosen UKSW sementara main tennis. Ada mantan Wakil Rektor IV lagi main tennis, saya kenal beliau karena sempat sama-sama jadi pejabat di kampus ini. Saya sempat jadi pejabat? heh, ga penting amat hahhahahha... sudah ah..

Sumber tambahan
[1] Wikipedia
[2] Catatan pribadiku

Another story in Salatiga?? hmmmm.... there is another time..

Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op