Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Luwu

Perencanaan

Ilustrasi. Courtesy of interviewpenguin.com Tanggal 01 Januari 2012, semua orang bersuka cita menyambut hari baru dalam tahun tersebut. Pada tanggal tersebut saya menyempatkan diri mengikuti ibadah syukur memasuki tahun baru di Gereja Toraja Jemaat Maindo. Sebuah gedung gereja yang terletak di Maindo, Kec. Bastem, Kab. Luwu, kampung halaman saya sendiri. Saya kebetulan berada di Bastem ketika memasuki detik-detik tahun 2012. Memasuki tahun baru, artinya ada periode baru yang akan dilalui ke depan. Kita (saya) tidak mengetahui persis apa yang akan terjadi dalam detik-detik berikut, itu mutlak. Saya jelas tidak tahu apa yang akan terjadi dalam tahun 2012. Menurut saya, tahun ini penuh dengan misteri. Banyak orang menggadang-gadang bahwa tahun ini akan terjadi badai matahari yang bisa menghancurkan isi bumi. Akan terjadi kiamat. Saya sendiri tidak percaya hal itu. Tapi yang jelas, ada kekhawatiran-kekhawatiran saya tahun baru 2012 ini. Saya tidak paham mengapa terjadi hal demi...

Panas terik, ingat makanan Kapurung dari Luwu

Kapurung buatan mama.  Begini nih jadinya kalau lagi jauh dari kampung halaman. Dikala berjuang mati-matian menghadapi dasyatnya terik matahari (halah lebay.. ), saya hanya bisa mengingat salah satu makanan yang pas disikat (disantap) pada saat terik matahari menyengat. Maklum, sudah beberapa hari di Kota Surabaya, kota kedua terbesar sejagad Indonesia. Mana ada kapurung di kota ini?, letaknya jauh dari habitatnya (sulsel - luwu). Mungkin ada orang sulsel yang bikin, tapi entah di mana. Saya juga belum menelusurinya ha ha ha.  Saat sinar matahari terasa sangat terik dan terasa membakar kulit, ada beberapa hidangan makanana/minuman yang cocok disantap sekedar sebagai pelepas dahaga. Misalnya saja es buah, minuman jus, es degan, es pisang ijo dan masih banyak teman-temannya. Itu semua sudah tidak asing lagi di lidah masyarakat Indonesia. Tinggal bagaimana menyesuaikan selera dengan pilihan hidangan yang ada, dijamin pasti fresh hehe. Ups, jadi ngiler :)).  Ad...

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande.  ...

Anda merokok adalah kehormatan bagi kami

Merokok. Courtesy of coolboys-ragil.blogspot.com Selamat berjumpa kembali. Tulisan ini adalah tulisan kedua yang khusus saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang Bastem setelah sebelumnya saya menceritakan perihal ' Rumah Persekutuan Keluarga '. Ada banyak hal dari kampung halaman saya (Bastem) yang menurut saya cukup unik untuk dibagikan kepada para sahabat blogger dimanapun berada sekaligus dapat menambah wawasan mengenai keragaman budaya hingga kearifan lokalnya. Kali ini saya akan bercerita mengenai rokok dan siri yang dikaitkan dengan aktifitas sosial budaya masyarakat Bastem. Hal pertama yang perlu kita ketahui bersama bahwa mayoritas masyarakat yang mendiami wilayah Bastem adalah suku bangsa Toraja. Namun demikian, wilayah Bastem adalah bagian dari wilayah administrative Kabupaten Luwu yang beribukota Belopa. Hampir seluruh budaya (interaksi social) masyarakat Bastem merupakan merupakan budaya Toraja.

Rumah Persekutuan Keluarga

Halo semua,,, lama tidak bersua di blog ini.. Lama tak sempat menulis karena beberapa hari terakhir saya dan keluarga besar memiliki berbagai kesibukan (termasuk kesibukan malas) di kampung halaman. Sempat terpikir untuk menulis dan berbagi cerita dari tempat saya berada sekarang, namun sayangnya itu hanya terpikirkan… belum sempat tertuang dalam susunan aksara… he he he.. tapi syukurlah, malam ini (Sabtu, 30 Juli 2011) saya bisa menyempatkan diri untuk berbagi cerita. Hayo,,, kita mau cerita apa yah.. :-? ,,, Oke,,, ini mungkin hanya curcol dan sedikit curhat. Saya akan sedikit menceritakan tempat saya berada pada saat saya membuat catatan ini (Sabtu, 30 Juli 2011). Hitung-hitung saya juga memperkenalkan kearifan lokal masyarakat Bastem - Luwu kepada dunia. Yuk mari….! Tempat saya berada sekarang dalam bahasa Toraja disebut sebagai Banua Pa’rapuan Lengke’ atau Batua’riri atau Tongkonan . Kalau diterjamahkan dalam bahasa Indonesia disebut “Rumah Persekutuan Keluarg...

Bastem dalam kubangan keterpencilan: Akankah terus berlanjut?

Bastem atau Basse Sangtempe’ merupakan daerah yang terletak jauh di dataran tinggi, tepatnya terletak di sebelah timur gunung Latimojong, Kabupaten Luwu, provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kondisi geografis daerah Bastem dipenuhi jejeran pegunungan, hutan dan sawah. Udara sejuk pegunungan akan selalu menjadi suguhan alam di daerah tersebut. Bastem menjadi salah satu kecamatan dalam lingkup Kabupaten Luwu. Jika berbicara mengenai Bastem, imaji tak akan lari dari seputaran ekstrimnya medan perjalanan dan kondisi jalanan bekelok serta dibayangi lumpur. Mengingat Bastem pasti akan mengingat gunung dan lembah. Masyarakat Bastem didominasi oleh keturunan suku Toraja. Salah satu kekaguman saya akan masyarakat Bastem adalah semangat hidup yang selalu berkobar. Sebelum diakses kendaraan bermotor, untuk urusan transportasi, masyarakat berjalan kaki atau berkuda. Melaui gunung dan lembah, masuk dan keluar hutan. Mereka datang membeli garam atau ikan di daerah Palopo atau sekedar membarter ha...

Luwu - Sulsel dan La Galigo (Epik Terpanjang di Dunia) [2]

Sureq Galigo Tulisan sebelumnya ada disini Manuskrip Sureq Galigo dari abad ke-19 Sureq Galigo , atau Galigo , atau disebut juga La Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan (sekarang bagian dari Republik Indonesia) yang ditulis diantara abad ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno, ditulis dalam huruf Lontara kuno - Bugis yang arkaik, alias bahasa yang gak lazim dipakai. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan kisah asal-usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak praktis sehari-hari. Kisah ini diceritakan secara lisan maupun tulisan. Tak diketahui pasti siapa yang mengarang kisah ini. Menurut penelitian yang dilakukan terhadap karya La Galigo sendiri, besar kemungkinan ditulis oleh perempuan bangsawan. Kesimpulan ini didasarkan pada dua hal. Pertama, adanya kerancuan geografis di La Galigo. Tempat yang jauh, disebutkan dicapai hanya dalam waktu sebentar. Sementara tempat yang sebena...

Luwu - Sulsel dan La Galigo (Epik Terpanjang di Dunia) [1]

"Alangkah lebih baiknya kalau kita sama-sama mengerti sejarah tanah tempat kita dilahirkan..." ~ Parman Pasanje Sepintas terpikir olehku untuk merangkai kalimat di atas. Menurutku penting, jangan sampai kita sendiri buta akan tanah kelahiran kita. Saya menyadari itu, dan saya berusaha sedikit demi sedikit belajar akan sejarah Tanah Luwu tempat saya dilahirkan. Berikut beberapa deskripsi mengenai Tanah Luwu Sejarah Tanah Luwu Makam Datu Luwu (1900-1940)  Sejarah Tanah Luwu sudah berawal jauh sebelum masa pemerintahan Hindia Belanda bermula. Sebelumnya Luwu telah menjadi sebuahkerajaan yang mewilayahi Tana Toraja (Makale, Rantepao) Sulawesi Selatan, Kolaka (Sulawesi Tenggara) dan Poso (Sulawesi Tengah). Hal sejarah Luwu ini dikenal pula dengan nama Tanah Luwu yang dihubungkan dengan nama La Galigo dan Sawerigading. Kesultanan Luwu Kesultanan Luwu (juga dieja Luwuq, Wareq, Luwok, Luwu' ) adalah kerajaan Bugis tertua, pada 1889, Gubernur Hindia-Belanda di Makassar meny...