Skip to main content

Anda merokok adalah kehormatan bagi kami

Merokok. Courtesy of coolboys-ragil.blogspot.com
Selamat berjumpa kembali. Tulisan ini adalah tulisan kedua yang khusus saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang Bastem setelah sebelumnya saya menceritakan perihal 'Rumah Persekutuan Keluarga'. Ada banyak hal dari kampung halaman saya (Bastem) yang menurut saya cukup unik untuk dibagikan kepada para sahabat blogger dimanapun berada sekaligus dapat menambah wawasan mengenai keragaman budaya hingga kearifan lokalnya. Kali ini saya akan bercerita mengenai rokok dan siri yang dikaitkan dengan aktifitas sosial budaya masyarakat Bastem.

Hal pertama yang perlu kita ketahui bersama bahwa mayoritas masyarakat yang mendiami wilayah Bastem adalah suku bangsa Toraja. Namun demikian, wilayah Bastem adalah bagian dari wilayah administrative Kabupaten Luwu yang beribukota Belopa. Hampir seluruh budaya (interaksi social) masyarakat Bastem merupakan merupakan budaya Toraja.


Hal yang membedakan suku bangsa Toraja yang mendiami wilayah Bastem dengan suku bangsa Toraja yang mendiami wilayah Kabupaten Tana Toraja atau Kabupaten Toraja Utara adalah dialek bahasa, disamping itu ada bagian detil dari prosesi upacara-upacara budaya yang tidak lagi dijalankan oleh masyarakat Toraja yang mendiami wilayah Bastem. Namun secara keseluruhan dapat dilihat bahwa budaya masyarakat Bastem adalah budaya Toraja yang terus dilestarikan hingga kini.

Setelah melihat masyarakat Bastem secara umum dari segi budayanya, maka selanjutnya kita berbicara mengenai perhelatan-perhelatan yang biasanya dilangsungkan oleh masyarakat Bastem. Seperti suku bangsa Toraja pada umumnya, masyarakat Bastem mengenal dua jenis perhelatan/acara yakni : [1] Rambu Tuka’ (baca: acara sukacita) dan [2] Rambu Solo’ (baca: acara dukacita).

Rambu Tuka’ dapat dihelat oleh satu keluarga dan dapat juga dilaksanakan oleh satu rumpun keluarga.  Kelompok acara yang masuk dalam acara Rambu Tuka’ antara lain; (1) syukuran keluarga, (2) mangrara banua (baca: peresmian rumah/kediaman), (3) syukuran panen padi, (5) Ibadah Natal Keluarga, dst.

Rambu Solo’ biasanya dihelat oleh satu rumpun keluarga karena perhelatan ini membutuhkan banyak tenaga hingga materi. Kelompok acara yang termasuk dalam acara Rambu Solo’ antara lain; (1) Upacara penguburan jenazah, (2) Upacara pemindahan makam, (3) Seroi Lo’ko’ (baca: upacara nyekar goa tempat pemakaman leluhur), dst.

Upacara Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’ tidak boleh dicampur aduk. Itu adalah konsesus adat yang dipegang teguh masyarkat Bastem pada khususnya dan masyarakat Toraja pada umumnya. Untuk menjaga hal tersebut dilangsungkan tetap pada koridornya, ada beberapa “penghulu adat” yang khusus diangkat secara adat oleh masyarakat untuk memberikan arahan kepada masyarakat umum.

Acara Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’ pasti dihadiri oleh banyak orang. Semua orang yang hadir tersebut merupakan rumpun keluarga, sahabat, kenalan atau kerabat bagi keluarga/rumpun keluarga yang melangsungkan acara. Berdasarkan kebiasaan secara budaya, mereka yang hadir diperlakukan seperti tamu oleh keluarga/rumpun keluarga yang melangsungkan acara. Dengan demikian, kebutuhan konsumsi hingga akomodasi tetamu merupakan tanggungan keluarga/rumpun keluarga yang melangsungkan acara.

Pada saat saya berada di kampung halaman di Bastem, saya sendiri sempat mengikuti satu kali acara Rambu Solo’, yakni ibadah penghiburan pemakaman alm. Ne’ Ngala’ (kakek/opa) di kediaman Ne’ Ngala’ pada tanggal 25 Juli 2011 dan satu kali acara Rambu Tuka’, yakni ibadah syukuran wisudah saya sendiri di kediaman orang tua pada tanggal 03 Agustus 2011.  Acara ibadah penghiburan pemakaman alm. Ne’ Ngala’ dilangsungkan oleh seluruh rumpun keluarga dari alm. Ne’ Ngala’ sendiri, termasuk bapak saya yang merupakan anak kandung dari almarhum. Sedangkan acara Rambu Tuka’ (ibadah syukur wisudah) dilangsungkan oleh kami sekeluarga.

Pada saat kedua acara tersebut di atas dilaksanakan, saya bersama anggota keluarga yang melangsungkan acara mengambil peran sebagai penerima tamu. Tugas penerima tamu adalah menyambut keluarga/kerabat/kenalan/sahabat yang memasuki pelataran rumah, mengantarkan mereka ke tempat duduk dan memberikan rokok (untuk laki-laki) kepada mereka. Tamu perempuan dijamu dengan pangngan (pinang dan siri) dan mereka di jamu oleh keluarga perempuan.

Memang tidak semua orang merokok, tetapi semua tamu yang hadir ditawari rokok oleh keluarga. itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat di wilayah Bastem. Anggota keluarga yang bertugas menerima tamu harus siap-siap dengan beberapa bungkus rokok di kantong bersama pemantik. Saya ketika itu selalu mengantongi tiga bungkus rokok untuk siap-siap diberikan kepada tamu yang hadir. Anggota keluarga yang melangsungkan acara akan merasa terhormat jika tamu yang hadir menerima tawaran rokok, memantiknya dan mengisapnya sambil bercengkerama dengan keluarga. Karena kebiasaan demikian, mereka yang tidak merokok kadang ‘terpaksa’ mengambil sebatang rokok yang ditawarkan kemudian dibakar dan dibiarkan terbakar habis dengan sendirinya. Tindakan demikian untuk menghormati penyambutan dari keluarga yang melangsungkan acara. Demikian pula dengan pinang dan siri yang ditawarkan oleh anggota keluarga perempuan, mereka selalu sigap menyambut tamu perempuan dan menjamu mereka dengan pinang dan siri kemudian bercengkerama bersama. Menerima tawaran pinang dan siri dari anggota keluarga yang melangsungkan acara merupakan suatu kehormatan bagi keluarga yang melangsungkan acara.

Siri pinang. Courtesy of asmahlailiadam.tripod.com
Menjamu tamu dengan rokok atau siri marupakan salah satu kearifan lokal yang terus dipelihara oleh masyakarat Bastem. Di sini kita dapat melihat betapa berartinya nilai-nilai kekeluargaan itu dalam kerangka membangun keeratan masyarakat dalam wilayah budaya masyarakat Toraja. Saling menghormati dan saling mendukung dalam keluarga merupakan warisan leluhur masyarakat Toraja yang sangat berharga dan tentunya akan terus dipelihara oleh generasi ke generasi.

Semoga tulisan ini dapat menambah wawasan kepada sahabat sekalian yang menyempatkan diri membacanya. Salam hormat. 


Tulisan ini juga dimuat di kompasiana. Silahkan dibaca di sini

Comments

  1. copas TULISAN ANDA TORA BASTEM:
    Kelompok acara yang termasuk dalam acara Rambu Tuka’ antara lain; (1) Upacara penguburan jenazah, (2) Upacara pemindahan makam, (3) Seroi Lo’ko’ (baca: upacara nyekar goa tempat pemakaman leluhur), dst.
    =================================================

    sekiranya diperhatikan secara baik-baik dalam penulisannya saudara jangan sampai sudah terbalik terimah kasih..

    ReplyDelete
  2. @Anonymous : Terima kasih saudara telah memberikan masukan yang sangat baik untuk konten tulisan ini. Kekeliruan tersebut tidak disengaja terjadi dan sudah saya perbaiki.

    Salam blogger.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op