Skip to main content

Susahnya Mencari Prangko Saat Ini

Prangko. Courtesy of Cirebon.olx.co.id
Prangko merupakan secarik kertas yang digunakan sebagai bukti telah melakukan pembayaran untuk jasa layanan pengiriman surat oleh kantor pos. Prangko tersebut ditempelkan pada pojok amplop surat atau kartu pos sebelum dikirimkan ke tujuan. Dari berbagai sumber saya menemukan bahwa ternyata prangko ini telah digunakan jauh di masa silam yakni pada tahun 1840 yang bermula di Inggris. Alat komunikasi seperti ini merupakan media yang paling banyak digunakan masyarakat sebelum kepopuleran digital seperti pada saat ini. 

Saat ini pola komunikasi masyarakat umum telah berubah drastis. Perbedaannya sangat jauh jika dibandingkan dengan kondisi 10 tahun terakhir, apalagi jika dibandingkan dengan kondisi pada era 1980. Kini masyarakat umum dapat bertukar infomasi secara instan (real time). Tak ada waktu lagi untuk menuliskan kata-kata pada lembar surat, membeli amplop surat dan prangko. Belum selesai sampai di situ, surat yang siap dikirim masih harus dibawa ke kantor pos atau dimasukkan ke bis surat. Saat ini teknologi informasi sudah memungkinkan masyarakat untuk berkirim pesan secara langsung melalui phonecell (Short Message Service), email, chatting bahkan Video Call

Surat lebih bermakna
Namun demikian, pengiriman pesan melalui surat (secara fisik) masih lebih terasa sensasinya ketimbang melalui pesan digital. Nah lho.. Iya kan?. Coba saja jika kamu menulis surat cinta kepada pacar dan sampaikan pesan-pesan cinta untuk dia dalam goresan pena yang cantik, kemudian kirimkan ke dia. Pasti suratnya dibaca dengan seksama (sambil sport jantung) dan akan disimpan sebaik mungkin, ketimbang jika menyampaikan pesan melalui SMS atau FB. Mau bukti?, coba saja. 

Penggunaan surat sebagai media pengiriman pesan sepertinya masih akan terus berlangsung hingga beberapa tahun ke depan. 

Saya sendiri masih kerap kali mengirimkan/dikirimi surat melalui jasa pengiriman pos. Tapi mengirimkan surat yang pembayarannya memakai prangko baru sekali saya lakukan, sisanya saya kirimkan dengan jasa pengiriman kilat. Pengiriman kilat tersebut tak perlu menggunakan prangko dari pengirim, cukup stempel khusus dari petugas pos. 

Kali ini saya berencana mengirimkan surat lagi dengan pembayaran menggunakan prangko. Mau tidak mau saya mesti mengirim pesan melalui surat karena sekaligus saya akan mengirim kartu ATM ke teman saya di Salatiga. Saya sakarang ini berada di Sidoarjo dan tujuan surat saya ke Salatiga. Saya pikir masih dalam satu pulau Jawa dan suratnya tidak urgent, makanya saya pilih pengirimannya dengan pembayaran prangko. Disamping itu, letak kantor Pos dari tempat tinggal saya lumayan jauh yang membuat saya malas mendatangi kantor pos hanya untuk mengirim surat saya tersebut. "cukup masukkan ke bis surat", pikirku. Masalah yang muncul adalah dimana saya bisa mendapatkan prangko tersebut?. Tadi sore saya sempatkan untuk survey kecil-kecilan mencari prangko tapi hasilnya nihil. Biasanya prangko dijual di toko alat-alat tulis. Saya sudah mendatangi tiga tempat penjual alat-alat tulis, malah semuanya tidak ada yang jual prangko. 

Wajar saja jika prangko sangat susah didapatkan saat ini. Masyarakat yang membutuhkannya mungkin saja semakin menurun sehingga penjualnya juga semakin sedikit karena lebih memilih mengirimkan pesan elektronik. 

Tapi bagaimanapun juga, prangko masih dibutuhkan hingga saat ini untuk mendukung kelancaran surat-menyurat. Saya salah satunya yang masih butuh prangko. Hingga tulisan ini saya buat, saya belum mendapatkan prangko lho... kalau kondisinya sudah seperti ini, mungkin saya harus mengusahakan ke kantor pos untuk mengirimkan surat. 

Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op