Skip to main content

Kangen Salatiga

Malam minggu (Sabtu tanggal 16 Oktober) saya cukup sering berkicau di media sosial twitter.com. Yeah, kebetulan saya tidak kemana-mana seperti anak muda lainnya setiap malam minggu hehe. Saya dirumah saja, kebetulan malam itu ada laga derby MU Vs Liverpool, duel dua raksasa Liga Inggris. Oyah,, hasilnya 1-1,, mumpung saya masih ingat :D.

Kicauan saya waktu itu sering ditanggaipi Coryn yang kebetulan lagi sama ka' Nana. Nah, supaya tidak ada yang salah paham... mereka berdua itu teman saya di PMK Salatiga dulu. Dulu sekali. Nana melalui Coryn menanyakan kapan main ke rumah Perkantas Salatiga. Hmmm saya ketus saja bilang kalau dalam waktu dekat saya akan ke sana. Hmmmm... tambah kangenin aja nih salatiga. 

Salah satu pemandangan Salatiga. Dokumen pribadi. 
Curhat nih., Ga papa yah, sekali-sekali curhat di blog. 

Ngomong-ngomong,,, memang dalam waktu dekat ini saya berencana akan main-main ke sana. Sebenarnya ada agenda juga yakni menghadiri upacara wisudah Togar (FSM) dan Marthin (Semoga jadi). Nah dalam rangka menghadiri wisudah itu sekalian saya mau ketemu sama teman-teman lama...

Pemkot Salatiga boleh saja memasang motto "Salatiga hati beriman" tapi kalau misalnya saya yang diminta memberikan motto, saya akan tuliskan "Salatiga tetap di hati" :D. Kalau ini memang saya rasakan sendiri. Dulu sewaktu masih kuliah di Salatiga saya sempat pulang Sulawesi, waktu itu libur Natal tahun 2009. Belum sampai dua minggu di kampung halaman, rasanya saya sangat rindu untuk kembali ke Salatiga. 

Saking banyaknya kenangan di Kota Salatiga, sampai-sampai saya sangat berat untuk meninggalkannya pada bulan Juli yang lalu. Perasaan yang berat itu sempat-sempatnya saya tulis di blog ini, bisa di baca di link ini :)). Hanya curcol saja hehe. Pernah juga merasakan sunyinya Natalan di Salatiga, ceritanya ada di sini. Cerita jalan-jalan di seputaran Kota Salatiga ada di sini dan di sini

Semoga minggu depan saya jadi main ke sana. Sudah terlanjur juga janji sama teman-teman, lebih dari satu teman pula :)). Semoga bisa ketemu lagi sama anak-anak cowok kenthirnya FSM 2006, sama teman-teman nongkrong (Marthin, lussua, Dhika, Rina, Octo, Dylan, Fendy, Krisma, Olan dll), sama Rere, sama Danis, Victor dan mantan-mantan BPMU yang lain. Oyah, sama ibu kost kemiri juga.. sekalian mau minta maaf karna meninggalkan salatiga dulu sebelum pamit sama beliau. Beliau sampai-sampai menelfon saya waktu saya sudah di Kota Palopo (Sulsel) menanyakan posisi dan kenapa tidak pamit dulu sebelum pulang haha.

Sudah mi nah...

Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op