Skip to main content

Menonton Kucing di Balairung Utama UKSW

Iseng-iseng narsis
“Kucing” adalah judul teater monolog yang dimainkan Butet Kartaredjasa malam tadi (29/04/2011) di Balairung Utama UKSW. Penontonnya lumayan banyak, bukan hanya dari kalangan mahasiswa UKSW tapi ada juga dari masyarakat umum sekitar Salatiga. Saya menyempatkan diri menonton pementasan itu, kebetulan tertarik menyaksikan akting Butet secara langsung. Langsung saja bikin janji bersama teman untuk nonton bersama.

Saya sendiri mengenal Butet dari media, kadang melihat beliau tampil di layar kaca dengan aksi khasnya memainkan teater. Saya tidak menonton keseluruhan pementasan teaternya di TV, hanya melihat sebentar. Alasannya?. Mungkin karena saya tidak terlalu mengerti dunia teater. Di kampus UKSW, ada beberapa kelompok teater dan ada beberapa teman saya sebagai anggota kelompok teater. Tetapi tetap saja teater itu sesuatu yang asing bagi saya. Rupanya supaya mengerti teater dan memahami pesan yang ingin disampaikan, mungkin saya harus memasuki dunianya. Mungkin yah he he he.

Semoga ini tidak aneh. Saya tidak mengerti teater, tapi tidak jarang saya mencomot kata-kata yang berasosiasi dengan dunia taater seperti; aktor, lakon, drama, sutradara, media, teatrikal dan lain-lainnya dalam catatan pribadi saya. Sekali lagi, semoga ini tidak aneh. Kan hanya sebatas catatan pribadi...., kecuali jika ada orang lain yang secara kebetulan membaca catatan saya. Semoga saja mereka bisa mengerti. Saya terkadang rewel melihat keadaaan sekitar, seperti; kepanasan, mendung, macet, menunggu kelamaan, kantong kering/kere, dan terkadang cerewet sama orang lain juga, kerewelan saya itu jika tak sempat terungkapkan secara langsung, maka saya tulis dalam catatan-catatan. Tidak semua juga. Orang lain mungkin saja bisa bilang, “itu nanti hanya jadi sampah digital dalam komputer”, tapi saya bilang “tak masalah”. Siapa tau suatu saat saya ingin bernostalgia, maka catatan-catatan itu bisa jadi pengingat. Jika saya rasa layak dibaca orang lain, maka saya pajang saja di blog pribadi. Lho, koq malah curhat ha ha ha... :D.

Lakon monolog “Kucing” dipentaskan sekitar dua jam. Saya menikmatinya dari awal hingga bagian menjelang akhir pementasan. Sisanya?. Perhatian saya sudah tidak lagi mengarah ke panggung, tapi sudah mulai memutar-mutar di wilayah audiens. Sekali lagi, mungkin karena kekurangkenalan saya pada dunia teater sehingga membiarkan perhatian tidak sepenuhnya tertuju pada aktor dan panggungnya selama pementasan. Eh, tidak terasa pementasannya sudah selesai, baru perhatian kembali ke panggung. Semoga Butet dan timnya tidak kembali cerewet kepada saya karena masalah ini he he he :D.

Kalau saya menilai secara subjektif, teater monolog “Kucing” tadi lumayan bagus. Sederhana. Alasan memilih judul “Kucing”, menurut buku tipis yang dibagikan tim Djarum (Djarum adalah sponsor utama teater monolong “Kucing”), adalah bahwa istilah “kucing” dirasa cukup netral. Alasan ini dapat dimengerti. Masalahnya, beberapa jenis binatang seringkali diasosiasikan kemana-mana jika ada pihak yang akan bereskpresi di depan umum dan mengangkat tema binatang. Sebagai contoh; istilah kerbau, tikus, buaya, cicak dan kutu. Nama binatang tersebut bisa berasosiasi ke mana-mana, bisa kepada figur publik atau kepada lembaga-lembaga. Kalau istilah “kucing” itu masih cukup netral. Kemudian properti panggung untuk monolog “kucing” juga cukup sederhana, jadi tidak ribet jika dibawa kemana-mana dalam program roadshow. Butet dan timnya memang berencana meneruskan roadshow setelah mampir di Kota Salatiga, seperti ke Solo, Kudus, Semarang, Pekalongan, Tegal hingga Purwokerto. Jadi, cocoklah untuk mementaskan monolog “kucing”.

Dari pementasan ini, ada beberapa pesan moral yang dapat ditangkap (menurut saya secara subjektif). Butet sering kali mengolok-ngolok tokoh publik yang dibangkitkan dalam lakonnya. Bukan secara sengaja diolok-olok, tapi memang begitulah kondisi aktual yang sedang terjadi. Misal ketika bercerita tentang  seringnya terjadi ledakan tabung gas LPG 3KG, maka siap-siap saja tokoh publik itu diolok-olok. Kadang perut pentonton sedikit terkocok karena akting aktor membangkitkan karakter tokoh publik. Saya kira itu adalah cara aktor untuk memainkan emosi penonton agar memahami kondisi aktual secara objektif dan memberikan kritik kepada pihak yang berkepentingan. Alur cerita dalam monolong “kucing” cukup dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Karakter Pak RT yang dibangkitkan cukup memainkan emosi penonton. Pak RT digambarkan sebagai seorang yang sok bersih, sok berwibawa, sok alim padahal sebenarnya mata duitan. Di sini, emosi penonton ‘dipaksa’ untuk membenci karakter seperti Pak RT dalam kehidupan sehari-hari. Ada satu tagline juga yang sengaja dikampanyekan dalam monolog “Kucing” yakni “Kucing lebih mulia dari koruptor”. Saya sangat bersepakat dengan tagline itu, bahkan jika boleh dirubah kalimatnya menjadi “Tidak ada yang lebih keji dari koruptor”.

Pementasan teater mololog “kucing” dapat menjadi pemicu kepada anak-anak muda yang senang teater. Siapa tau suatu saat dapat setenar Butet dan aktif menyampaikan pesan-pesan moral kepada masyarakat melalui pementasan teater. 

Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op