Skip to main content

Norman Camaru, an Indonesian Cop, hits Indonesian through Youtube

Norman on TV show/muhammad-ardi.blogspot.com
Actually, i have no planning to write this note, the story about Indonesian unexpectedly artist, a cop, Norman Camaru. But that’s change when this evening i went to Marthin’s rent room and board in Cungkup Salatiga, he viewed me the video which show Norman Camaru’s performance. The video isn’t his, but his friend’s video. That video than emerge me to write a note about the artist, Norman Camaru.

First time i watched the cop’s performance in April 10, 2011 on Metro TV channel. It was become the closing part after news program on the channel. The newscaster reported that the video was in Yuotube. When was reported, the cop’s identity who sang lypsinc “Chayya-chayya” still covered (Chayya-chayya is hit song in Bollywood, it was sang by Sharukh Khan). The cop in the video seem funny (according to me), funny facial expression, act like Sharukh Khan in choreography and sang with his cop uniform. Crazy acting.

I confess that the video was so funny, could make me laugh. Then i searched the video in Youtube, and let’s guess......... the video was viewed in thousands view and had many thumps up. After that i didn’t notice by the cop in the video. I just consider it as amateur video, just like other funny videos.

After reported by national TV channels in Indonesia, gradually, the cop’s identity uncovered. He is Norman Camaru, a member of mobile brigade force in Gorontalo. Shortly, he was at issue in mass media that he would be punished by Indonesia police force do to his indisciplinary in duty (by singing in office time). Day by day, mass media and entertainment program more and more unceasing coverage Norman Camaru. I am in a pinch watch him on TV, it was unavoidable.  

Norman breaked code of ethics, breaked the policeman’s fierce appearance. He showed the humanity of the line officer. His act in the video preposses and made as if a cop always man himself.

Indonesian Police Headquarters invited Norman to Jakarta. As long as Norman in Jakarta, he becomed focus of entertainment lens. Yes, he became the talk of the town.  

Thus Norman Camaru, a cop from Gorontalo spring up like a mushroom becomes an artist. Because of his funny action on Youtube. 

Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op