Skip to main content

Salam Natal dari Salatiga

Kiriman kartu Natal dari Westin Wera (Facebook.com)
Natal, seremonial tahunan yang ditunggu-tunggu umat kristiani di seluruh dunia. Setiap tanggal 25 Desember, Natal sebagai pendanda hadirnya terang abadi Yesus Kristus ke dalam dunia ini dirayakan. Terang ini membangkitkan harapaan akan keselamatan yang dibawa oleh Sang Juru Selamat dan menjadi pendamai bagi kehidupan kita semua.

Natal juga menjadi momentum pertemuan dengan keluarga dan orang-orang yang dikasihi. Kita akan sangat berbahagia jika dapat menyambut Natal bersama orang-orang tercinta di dekat kita. Dan juga lebih berbahagia bagi mereka yang masih dapat menyambut natal dalam suasana yang susah, kesulitan, termarjinalkan, bagi mereka Yesus Kristus juga hadir dengan penuh senyuman yang tulus.


Kedatangan Yesus Kristus ke dunia ini bersama misi kudus, mengabarkan keselamatan bagi semua orang. Kedatangan-Nya tidak memandang kelas, kasta, trah, jabatan, posisi dan segala bentuk latar belakang duniawi. DIA datang mengabarkan berita kesukaan bagi seluruh manusia di dunia ini. Tangan kasih-Nya terbuka bagi setiap orang yang ingin menerima-Nya. Kini lilin Natal telah dinyalakan, mari kita semua yang membutuhkan terang-Nya datang kepada-Nya. Narasi Natal "Di Timur bintang bersinar terang. Babak baru dalam kehidupan manusia telah dimulai. Penebus telah datang. Lihatlah, Rajamu telah datang !. Bersukacitalah hai umat !. Turutlah dalam sukacita Rajamu. Menyanyilah, muliakanlah dan agungkan Dia, Penyelamat yang sesungguhnya.".

Saya yang masih berstatus sebagai pelajar juga tak melewatkan momen ini. Tak ada orang orang tua, kakak, adik, om dan  tante di sekeliling. Mereka semua jauh di sana, di kampung Basse Sang Tempe', Luwu, Sulawesi Selatan. Orang lokal Luwu biasanya bilang 'tondok mellappa'na' (dataran rendah sekitar pinggir pantai red), tapi sebenarnya kampung halaman saya di datarang tinggi, nah lho!. Perayaan Natal saya lewatkan di Kota Salatiga, kota kecil di kaki gunung Merbabu. Saya tidak sendiri, teman-teman seperantauan juga masih ada. Kami semua menyambut kehangatan Natal di sini dengan keceriaan.

Terima kasih untuk teman/sahabat/saudara(i) yang bersama-sama denganku menyambut Natal sejak tadi malam hingga hari ini (25 Desember 2010). Bersama ke Gereja tadi malam. Setelah berGereja, bersama-sama memandangi bulan purnama di bagian Timur cakrawala, bersama-sama mengklaim Jalan Kemiri II dan Kemiri Raya sebagai milik bersama karena saking sunyinya jalan itu pada malam hari menjelang Natal. Bersama-sama tertawa lebar di Jalan Kemiri Raya dikarenakan mengerjakan tantangan yang sangat konyol. 

Tadi malam, kami rencana mencari tempat untuk makan malam, tapi susahnya minta ampun padahal perut sudah keroncongan semua. Parahlah. Kami jalan kaki hingga ke kampus UKSW, kebetulan di sana ada teman juga yang mau gabung.

Sesampai di kampus (UKSW red) malah duduk di taman Plaza depan kampus, tempat paling pas menikmati pemandangan malam. Di sana terlihat pemandangan  bulan purnama dan bintang-bintang di langit dengan indahnya. Kebetulan rerumputan taman lebat dan bersih, tamannya tertata rapi. Kami duduk-duduk di sana sambil memandangi indahnya bulan purnama. Malam itu jumlah SMS masuk sangat banyak, HP kami terlalu sering berdering, isinya semua ucapan selamat Natal dari kerabat dan keluarga. Baca SMS, terus lihat pemandangan bulan. Mantap nian.

Bosan pelototin bulan purnama, ditambah perut pada keroncongan, kami meluncur ke suatu tempat untuk makam malam bersama. Di sana kami menikmati makan malam sembari guyon cerita hingga cerita gila-gilaan.   Hanya makan malam, tapi lama sekali nongkrong di situ. Setelah makan malam, kami pulang kost masing-masing, karena besoknya (25/12/2010) kami berencana ikut ibadah bersama di Lapangan Pancasila pukul 04.00 WIB. Belum lama berlajan, kami ngakak lebar lagi melihat mobil container lewat, tapi malam itu dia tidak mengangkut kontainer. Yang ada hanya badan truk bagian depan sedangkan bagian belakang tinggal 'tulang', ukurannya pendek pula. Jalan di samping kami seperti bekicot, memang jalannya agak menanjak tapi sebenarnya jalan itu bisa buat 'ngebut'. Mobil itu malah jalan santai sekali, kelihatan butut dan lucu abis wkwkwkwkk....  seperti ayam jangkung pulang kerumah karena abis 'disikat' ayam kater tetangga hahahhah... Kami menertawainya dan terus tertawa di sepanjang trotoar mungkin sejauh 100 Meter. Orang gila hahhahaha,,,

Kami kembali ke kamar kost masing-masing, tidur malam. Subuh sekitar pukul 3 kami bangun, bersih-bersih diri lalu jalan kaki ke Lapangan Pancasila untuk beribadah Natal bersama di sana. Kami datang terlambat, karena itu, tujuan kami mungkin lebih tepatnya berubah menjadi 'datang ke Lapangan Pancasila menyaksikan orang beribadah' hahahhahaha,,, ini tujuan model apa lagi coba?... Di sana jemaat yang jumlahnya mungkin seribu orang lebih, sudah duduk tertib mendengarkan sambutan dari Walikota Salatiga. Setelah sambutan itu baru lanjut ibadah Natal.

Dua hari ini adalah hari berkesan dalam pengalaman menyambut Natal. Saya sempat bilang pada rekanku "mungkin saat ini terakhir kali saya Natalan di Salatiga". Dia hanya senyum, tapi kelihatan dipaksakan. Saya tak tau maksudnya. Memang tahun depan (2011 red) saya menargetkan untuk lulus S1 (Strata 1 red) dan bersiap-siap untuk berpisah dari sahabat-sahabat tercinta. Eh, kok malah jadi sedih begono?. Santai sajalah, itulah pertemanan.. ada pertemuan, pasti ada perpisahan hmmmm,

Pada kesempatan Natal ini, dengan segala kerendahan hati saya ingin mengucapkan "Selamat hari Natal 25 Desember 2010 dan selamat menyongsong tahun baru 1 Januari 2011, semoga kasih Tuhan Yesus tetap menyertai kita selalu". Saya sampaikan kepada semua rekan dan keluarga dimanapun berada di bumi ini. Terima kasih untuk semua ucapan Natal yang dikirimkan namun saya tidak sempat membalas semua SMS. Bukan bermaksud saya cuek, tapi karena memang pulsa IM3 saya tidak ada hehehhe.. Terima kasih masih mengingat saya, terima kasih untuk doa dan terima kasih untuk semua senyuman. 


Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op