Skip to main content

Garuda Belum Kalah!

Menjelang pertandingan final leg kedua Piala AFF 2010, antusiasme masyarakat Indonesia untuk mendukung tim kesayangan Timnas Indnesia sangat tinggi. Sepak terjang Timnas dalam turnamen kali ini memberi angin segar bagi pecinta bola tana air. Ada harapan besar dan kecintaan dari masyarakat yang muncul untuk Timnas.

Kemarin, 2 jam menjelang pertandingan dimulai, saya penasaran mengetahui seperti apa suasana di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) secara langsung (siaran langsung dari stasiun televisi). Karena di indekost tidak ada televisi maka saya manfaatkan Video Streaming dari internet untuk menyaksikan siaran televisi. Saya pilih channel TVone, kebetulan stasiun itu menyiarkan kondisi SUGBK secara langsung. Di sana memang sangat ramai, masyarakat Indonesia sangat banyak jumlahnya berduyun-duyun memenuhi SUGBK. Dikabarkan jumlahnya sekitar 80.000 orang dan semuanya berkostum merah. Samar-terdengar lagu Garuda Didadaku dinyanyikan para suporter. Benar-benar pemandangan menakjubkan. Jantung saya berdetak cepat menontonnya. Saya terharu menyaksikan masyarakat Indonesia dengan semangat tinggi memadati SUGBK. Mereka bangga menggunakan kostum Timnas dengan lambang Garuda di bagian dada kiri. Mereka bangga mengibarkan Bendera Merah Putih. Suatu bentuk nasionanlisme yang menggelora.
Suporter Timnas/www.VIVAnews.com
Dari sini dapat kita ketahui bahwa nasionalisme bangsa kita yang kian terkikis karena carut marut didera berbagai persoalan dapat dibangkitkan melalui olahraga. Sejenak kita larut dalam euforia sepak bola. Semoga euforia ini tetap ada dan terus memotivasi kita dalam menata persepak bolaan negeri kita. Jangan biarkan euforia menjadi disporia.

Saat saya jalan ke kost teman untuk menonton pertandingan, saya sempat dengar pengumuman dari Mesjid. Saya penasaran untuk mendengar pengumuman itu, saya dengarkan.... ternyata pengumuman agar warga segera menonton TV menyaksikan penampilan Timnas melawan kesebelasan Malaysia. Wow... luar biasa,, sampai diumumkan di Mesjid...

Hasil akhir pertandingan menunjukkan skor 2-1 untuk Indonesia. Tim kita menang pada pertandingan ini, tapi masih kalah poin dengan malaysia yang telah mengoleksi 3 gol pada laga sebelumnya. Kita belum menang kali ini. Garuda masih ada dan siap melakoni turnamen selanjutnya.

Kekalahan Timnas kita tidak menurunkan dukungan masyarakat kepadaya. Terbukti ketika tadi malam Timnas akan keluar Stadion menuju Hotel Sultan, ribuan suporter masih setia menunggu di  luar. Mereka ingin menyaksikan para pemain Timnas dan melambaikan tangan kepada mereka. Seraya ingin mengatakan "Kamu telah menampilkan yang terbaik pada pertandingan ini, kami tetap mendukungmu. "


Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op