Skip to main content

Kilas balik memasuki 2010

grandchief.wordpress.com
Sekarang memasuki hari Selasa 28 Desember 2010, artinya tinggal tiga hari lagi tahun ini akan berlalu. Tahun 2011 sudah di depan mata. Sebuah refleksi sederhana sangat penting dalam menjalani detik-detik pergantian tahun ini memasuki tahun 2011. Untuk memasuki tahun yang baru, selalu disambut dengan penuh harapan dan asa, penuh dengan rencana. Agar harapan-harapan itu nantinya mampu dimanifestasikan maka setidaknya membutuhkan sebuah catatan silam berupa evaluasi dan rekomendasi. 

Hal tersebut juga saya lakukan ketika memasuki tahun 2010. Oyah, mungkin tepatnya saya bersama keluarga tercinta. Untuk mensyukuri penyertaan Tuhan Yesus dalam tahun 2009 dan mempersiapkan hati memasuki tahun 2010 maka kami sekeluarga sepakat untuk mengadakan ibadah bersama di rumah pada tanggal 31 Desember 2009. Kami beribadah sekitar pukul 4 sore. Kami sekeluarga lengkap dalam ibadah itu, juga turut hadir sanak keluarga yang lain (hadir om dan tante, ada nenek juga/nenek saya dari bapak - nenek saya satu-satunya yang  masih ada, ada juga keponakan dan sepupu-sepupu saya) dan tetangga. Pemimpin ibadah adalah om Daud Palili', beliau adalah Ketua Majelis Gereja Toraja Jemaat Maindo, jemaat saya dan keluarga. 

Malam (tanggal 31 Desember 2010) kami beribadah 'tutup tahun' di gedung Gereja. Tempatnya agak jauh dari rumah keluarga kami. Setelah ibadah di Gereja, waktunya jalan-jalan ke rumah sanak saudara. Ini adalah silaturahmi akhir tahun yang menjadi tradisi di daerah Bastem. Berkeliling rumah famili kadang hingga tengah malam (saat itu memang kami hingga tengah malam) dan di semua rumah ada makanan. Waktu yang ditunggu-tunggu niy,,,.!! Silahkan makan sampai puas hehehhehe... Malam tahun baru saya tidak tinggal di rumah sendiri, saya nginep di rumah om. Pagi tanggal 1 Januari 2010 baru saya kembali ke rumah.


Memasuki tahun baru 1 Januari 2010 seperti biasa kami adakan doa bersama sekeluarga seraya memanjatkan syukur atas pimpinan Tuhan mengantar masuk tahun 2010. Selanjutnya ibadah tahun baru di Gereja. Nah, selama tanggal 1 Januari itu waktunya lagi untuk makan-makan. Seharian kami isi dengan silaturahmi ke rumah-rumah sanak saudara dan di sana selalu ada makanan. Wew, saatnya untuk memperbaiki gizi tuh,, hehhehe.. Hal demikian juga adalah tradisi orang-orang di Bastem, hubungan kekeluargaan di sana masih sangat erat. Sebuah kondisi yang membuat kangen akan kampung halaman.


Selamat menjelang tahun baru 1 Januari 2011. 

Comments

Popular posts from this blog

Barang Mahalnya Toraja

Kerbau belang seharga Rp.180.000.000 Salah satu destinasi wisata Toraja yang tak kalah menarik adalah pasar hewan di daerah Bolu, Rantepao – Toraja Utara. Masyarakat Toraja lebih mengenalnya sebagai ‘ pasa’ tedong’ (baca: ‘pasar kerbau’). Hal yang wajar jika disebut pasar kerbau karena mamalia tesebutlah yang paling banyak diperjual-belikan di sana. Hanya ada dua jenis hewan mamalia di jual di pasar hewan tersebut, jenis yang kedua adalah babi. Aktivitas di pasar kerbau tidak dilaksanakan setiap hari, hanya dilakukan sekali dalam 6 hari. Jadi, jika seseorang berkunjung ke pasar kerbau bukan pada hari pasar, maka lokasi yang dijadikan pasar kerbau tersebut tak jauh beda dari tanah kosong biasa yang dilengkapi dengan kios-kios dagang. Tanggal 22 Desember 2011, saya sengaja ikut om ke Rantepao yang akan beli perlengkapan bangunan dan beli babi untuk acara natal di Bastem. Momentum yang saya kejar adalah pasar kerbau di Rantepao, kebetulan hari itu adalah hari ‘pasa’ tedong’....

Pentas Seni dan Budaya Indonesia di UKSW

Senin 17 Mei 2011, acara Pentas Seni Budaya Indonesia (PSBI) dibuka di Balairung Utama (BU) UKSW. PSBI akan berlangsung pada tanggal 16-19 Mei 2011 dan diikuti oleh 19 etnis se-Indonesia yang ada di UKSW.  UKSW memang sangat identik dengan keberagaman latar belakang budaya mahasiswanya, tersebar dari Sabang hingga Merauke. Setiap tahun acara serupa dilaksanakan di UKSW yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Universitas (SMU) sebagai lembaga eksekutif mahasiswa. Di acara ini mahasiswa UKSW berkesempatan untuk menunjukkan karakteristik etnisnya seperti makanan khas, pakaian daerah, ornament/atribut, tarian, lagu daerah hingga miniature rumah adat. Lompat batu Nias Sesaat setelah acara dibuka, pertunjukan pertama dari etnis Nias dengan tarian dan lompat batunya. semua penari adalah laki-laki. Tariannya seperti tari perang, para penari membawa parang yang panjang, tombak dan perisai. Salah satu dari penari mengambil peran seperi komando pasukan yang memberi semanga...

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sek...