Skip to main content

Santun adalah berbudaya

Terlepas dari substansi pembicaraan, seseorang yang menyampaikan opini dengan santun akan lebih didengarkan ketimbang orang yang menyampaikan dengan emosi meledak-ledak, walaupun substansi pembicaraannya berbobot. Jika ingin didengarkan, beropinilah yang santun. Sebenarnya itulah identitas kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa yang mewarisi kekayaan nilai-nilai budaya para leluhur. Kita bahkan cukup dikenal orang luar sebagai bangsa yang ramah, santun kepada semua orang. Seyogianya kesantunan itulah yang harus menjadi penjadi identitas pelengkap siapapun sebagai manusia Indonesia dalam menjalankan perannya sebagai bagian dari masyarakat. 

Lingkungan masyarakat yang ramah dan menghargai satu sama lain masih gampang kita temukan di lingkungan pedesaan. Jika ingin belajar dan menyaksikan betapa indahnya sebuah keramahan dan penghargaan terhadap orang lain, saya sarankan jalan-jalanlah ke desa. Ini untuk masyarakat perkotaan pastinya, yang terbiasa hidup dalalm pengaruh global dengan embel-embel kapitalnya. Masyarakat perkotaan cenderung bergulat dalam paradigma orientasi materi sehingga terkadang lupa akan penghargaan kepada orang lain. Dari sini kita dapat melihat bahwa jika paradigma orientasi materi yang berkembang dalam masyarakat luas terus tumbuh dengan pesatnya, juga akan terus-menerus menggerus identitas-identitas leluhur (seperti misalnya kesantunan dan penghargaan terhadap orang lain). 

Itulah satu refleksi singkat yang penulis bisa petik dari rangkaian pelaksanaan kongres PSSI kali ini. Seperti kita tahu bersama bahwa PSSI telah gagal melangsungkan kongres dua kali, pertama di Pekanbaru kemudian kedua kali di Jakarta. Kegagalan kongres tersebut merupakan akibat dari peluapan emosi yang meledak-ledak, yang berasal dari kepala yang sudah keras kepala. Jika demikian, maka tak bisa dipungkiri bahwa apapun yang dilakukan akan dipengaruhi/dirusak oleh arogansi subjektif. Arogansi subjektif jika tergabung dalam lingkungan yang sama akan menimbukan hal yang kompleks lagi, muncullah arogansi publik. Arogansi publik menjamin terjadi kacau-balaunya sebuah permusyarawatan. Tidak mengherankan jika dua kongres PSSI sebelumnya justru menghasilkan kegagalan. Kenapa?. Karena arogansi-arogansi diri itu muncul ke permukaan dan menjadi wajah orang-orang yang ada dalam kongres.

Walikota Solo, The man of the match. Coutesy of VIVAnews
Ada berita menggembirakan dari pelaksanaan kongres PSSI ke tiga yang dilaksanakan di Kota Solo kemarin,  Sabtu 07 Juli 2011, yang akhirnya memilih pucuk pimpinan PSSI. Dari pelakanaan kongres kali ini, penulis sangat mengapresiasi inisiatif Walikota Solo, Joko Widodo untuk melakukan pendekatan budaya dalam kongres PSSI. Seperti yang saya singgung di atas bahwa identitas kita sebagai bangsa yang mewarisi nilai-nilai budaya dari leluhur mestinya berpelilaku santun dan penuh penghargaan dalam melakukan musyawarah. Inilah yang ingin dibangkitkan dan menjadi warna dalam pelaksanaan kongres PSSI di Kota Solo oleh Joko Widodo. Terlepas dari negosiasi-negosiasi politik, pelaksanaan kongres jika diwarnai dengan budaya santun dijamin akan menghasilkan sesuatu, bukan kegagalan. Apa jadinya Indonesia jika pemimpin-pemimpinnya tidak mengamalkan nilai-nilai budaya Indonesia sendiri?. Gontok-gontokan sering terjadi, silang-sengkarut opini hingga saling serang argumen yang tidak santun kadang diperlihatkan oleh pemipim-pemimpin kita. Jika hal itu terjadi, saran saya jangan ikuti mereka he he he. 

Satu hal yang perlu penulis garis bawahi dari catatan ini bahwa nilai-nilai budaya kita sangat indah untuk diimplementasikan. Itulah yang menjadi semangat Pancasila yang harusnya menjadi ruh bangsa dan menjadi indentitas kita dalam bermasyarakat terlebih lagi dalam bermusyawarah. Jangan tunggu bencana dulu sebelum melakukan sesuatu, okeh kawan?. 

Salam untuk Indonesiaku....
Putri Solo pada Kongres Luar Biasa PSSI di Solo, 09 Juli 2011. Cortesy of VIVAnews
Tulisan ini juga di muat di Kompasiana. Check this out

Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op