Skip to main content

NARSISME DPR

Ilustrasi/http://dwikisetiyawan.wordpress.com/
Wajar kalau orang mau narsis di depan publik, setidaknya tampil lebih rapi dulu baru dipotret ataupun diliput. Dengan begitu orang lain akan menilai kerapian dan kebaikan hasil jepretan. Orang kebanyakan pasti akan melihat balutan cantik dari sisi luar tapi melupakan substansi dasar dari sebuah polesan. Sayangnya kosmetik bisa saja menipu.

Yang mau narsis juga banyak, termasuk politisi Senayan. Mengikuti rapat-rapat resmi terlihat rapih, berwibawa dan sopan. Itu yang berhasil diliput media. Lain cerita jika ada yang ketiduran atau main HP kemudian disorot, sudah pasti akan dihujat publik. Berarti tidak sempat narsis. Kasihan.

DPR RI sebagai Lembaga Negara sekaligus sebagai pilar legislatif pada prinsipnya perlu melaksanakan agenda-agenda kelembagaan secara terhormat. Jangan kelihatan seronok, silang-sengkarut, ribut apalagi ricuh. Hal itu untuk menjaga kredibilitas dan kehormatan lembaga DPR dalam menjalankan tugas-tugasnya. Kalau wakil rakyat saling gontok-gontokan di Senayan sana, yang malu adalah rakyat sendiri sebaliknya kalau wakil yakyat rajin dan sopan apalagi tertib dalam menjalankan tugas, yang bangga tak lain adalah rakyat.

Panggung politik Senayan isinya adalah orang-orang pintar, tentunya pintar dalam dunia perpolitikan.  Punya lencana anggota dewan membuat siapapun merasa terhormat. Semuanya harus memberikan hormat pada mereka sehingga mereka juga harus bertemu dengan orang-orang terhormat. Kalau bertemu dengan rakyat, berarti rakyat yang terhormat. 

Kenyataan di atas terlihat saat akan diadakan Rapat Dengar Pendapat dengan wakil KPK, Selasa dan Rabu lalu. Karena Narsisme DPR, Bibit dan Chandra kena batunya. Penolakan sebagian besar anggota dewan untuk berapat dengan Bibit dan Chandra secara implisit mendikotomi orang-orang yang layak dan tidak layak berapat dengan wakil rakyat. Alih-alih mempertanyakan status hukum. Karena semuanya harus bernuansa hormat-hormatan, mereka yang diperkarakan menjadi tidak layak bertemu dengan wakil rakyat. Tentunya sangat berlebihan dan tidak substansial. 

Singkatnya, tugas para wakil rakyat adalah menyerap seoptimal mungkin aspirasi dari semua pihak dan ditindaklanjuti hingga pada tingkatan aksi. Dalam hal ini dibutuhkan koordinasi dan kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait. Bukan malah mendebat kelayakan dan kepatutan orang yang akan menyampaikan pendapat.

Kosmetik politik
Para pemimpim negeri ini justru sibuk dengan masalah citra. Bungkusan terlalu sering diperhatikan, atau jangan-jangan tidak berisi? Yang penting pidato bagus, yang penting angket bergulir, itu sudah cukup memperlihatkan kalau wakil rakyat bekerja. Kebanyakan hanya panas di awal, setelah itu hilang menguap. Masih segar dalam ingatan angket Century yang sudah digulirkan, kini menggelinding entah kemana. Bukannya menghantam para bandit Century tapi malah hilang dijalanan. 
Kedepan-kedepan tak diketahui ada angket apalagi yang muncul. Bagus kalau menggelinding dan menghantam target tapi kalau hilang menguap dijalanan, lantas bagaimana?. Sesungguhnya jika kita sadari masih banyak yang perlu kita bereskan bersama. Tapi alangkah susahnya jika wakil rakyat sendiri yang notabene sebagai pentolan untuk mengarahkan, mengawal hingga mengawasi proses perbaikan justru sibuk dengan urusan kosmetik. 


Di luar sana para mafia masih berlayar bebas. Mencengkeram rasa keadilan dan kesejahteraan rakyat kecil, mengombang-ambingkan penegak hukum. Membuat sepak terjang dalam lembaga-lembaga kenegaraan. Yang berhasil kena jaring saat ini baru kroco-kroco, yang besar-besar belum kelihatan ekornya. Justru ini yang perlu didebatkan oleh para wakil rakyat.

Menyatakan Aksi
Menghadapi masalah dalam negeri yang kian dikuasai mafia ini bukan urusan kecil. Sesunggguhnya adalah perang, berjihad melawan para mafia. Dalam penataan dunia politik yang etis para wakil rakyat dituntut untuk memberikan kontribusi nyata. Perlu lebih mementingkan kepentingan rakyat kecil bukan semata-mata kepentingan fraksi. Yang dibutuhkan bukan hanya pidato dan riasan politik yang aduhai tapi aksi nyata. 

Justru yang terlihat sekarang adalah fenomena jalan di tempat. Gebrakan dan terobosan kurang, inilah karena kebanyakan cuap-cuap saja. Pada titik ini kita perlu sadar bersama bahwa negeri kita ini butuh perhatian kita semua. Tak cukup hanya dilakukan dalam waktu dekat, tapi mungkin urusan lebih jauh ke depan. Penyaradan kolektif harus mulai dari tingkatan bawah, tidak hanya terbatas pada tingkatan elit. Untuk urusan rias-merias politik itu sangat jauh dari perbaikan pelaksanaan penegakan hukum kita yang compang-camping ini.

Ditulis di Salatiga, tanggal 3 Februari 2011.

-----------------------------------------------------------
  
Artikel ini sempat saya kirimkan ke media massa nasional dan lokal pada tanggal 4 Februari 2011 silam. Namum berlum berkesempatan untuk dimuat di media massa. Berdasarkan pesan elektronik yang saya terima dari Sekretariat Desk Opini media tersebut, alasan tulisan saya tidak dimuat karena kesulitan mendapat tempat. Substansi dalam opini ini adalah gagasan saya kepada para pemimpin yang menjalankan amanat rakyat di negeri tercinta ini. 

Salam,





Comments

Popular posts from this blog

Pentas Seni dan Budaya Indonesia di UKSW

Senin 17 Mei 2011, acara Pentas Seni Budaya Indonesia (PSBI) dibuka di Balairung Utama (BU) UKSW. PSBI akan berlangsung pada tanggal 16-19 Mei 2011 dan diikuti oleh 19 etnis se-Indonesia yang ada di UKSW.  UKSW memang sangat identik dengan keberagaman latar belakang budaya mahasiswanya, tersebar dari Sabang hingga Merauke. Setiap tahun acara serupa dilaksanakan di UKSW yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Universitas (SMU) sebagai lembaga eksekutif mahasiswa. Di acara ini mahasiswa UKSW berkesempatan untuk menunjukkan karakteristik etnisnya seperti makanan khas, pakaian daerah, ornament/atribut, tarian, lagu daerah hingga miniature rumah adat. Lompat batu Nias Sesaat setelah acara dibuka, pertunjukan pertama dari etnis Nias dengan tarian dan lompat batunya. semua penari adalah laki-laki. Tariannya seperti tari perang, para penari membawa parang yang panjang, tombak dan perisai. Salah satu dari penari mengambil peran seperi komando pasukan yang memberi semanga...

Barang Mahalnya Toraja

Kerbau belang seharga Rp.180.000.000 Salah satu destinasi wisata Toraja yang tak kalah menarik adalah pasar hewan di daerah Bolu, Rantepao – Toraja Utara. Masyarakat Toraja lebih mengenalnya sebagai ‘ pasa’ tedong’ (baca: ‘pasar kerbau’). Hal yang wajar jika disebut pasar kerbau karena mamalia tesebutlah yang paling banyak diperjual-belikan di sana. Hanya ada dua jenis hewan mamalia di jual di pasar hewan tersebut, jenis yang kedua adalah babi. Aktivitas di pasar kerbau tidak dilaksanakan setiap hari, hanya dilakukan sekali dalam 6 hari. Jadi, jika seseorang berkunjung ke pasar kerbau bukan pada hari pasar, maka lokasi yang dijadikan pasar kerbau tersebut tak jauh beda dari tanah kosong biasa yang dilengkapi dengan kios-kios dagang. Tanggal 22 Desember 2011, saya sengaja ikut om ke Rantepao yang akan beli perlengkapan bangunan dan beli babi untuk acara natal di Bastem. Momentum yang saya kejar adalah pasar kerbau di Rantepao, kebetulan hari itu adalah hari ‘pasa’ tedong’....

Karna Aku Tlah Denganmu

Romance. Courtesy of berita.assyams.com Sebagai penyuka lagu Ari Lasso, pasti tahu kan lagu terbarunya? Judulnya sesuai dengan judul postingan saya kali ini. Saya lumayan suka dengan lagu ini, enak didengar, liriknya simple namun mengena ditambah dengan karakter suara seorang remaja Ariel Tatum. Oyah.. lagu ini juga bertengger di urutan teratas tangga lagu Indonesia (update 23/10/2011). Sekedar info. Lagu-lagu Ari Lasso bisa menjadi alternatif untuk menikmati lagu-lagu romance. Sebenarnya banyak juga rujukan lain, apalagi kalau sampai ke luar negeri, ada banyak lagu-lagu romance dari musisi barat sana. Nah, dalam rangka menunjukkan diri sebagai pecinta karya seni anak bangsa, marilah kita mencintai karya-karya musisi tanah air. Lagu-lagu karya anak bangsa tidak kalah bagus kok :D.  Ada yang unik untuk lagu berjudul "Karna Aku Tlah Denganmu". Menurut saya, liriknya boleh dikata terlalu manja dan sangat bernuansa remaja.  Memang sangat cocok jika Ari Lasso menyanyikannya b...