Skip to main content

Universal Riemann


visualisasi integral Rieman/http://commons.wikimedia.org
Sebenarnya sangat susah saya mencari judul yang pas untuk catatan saya ini. Banyak kata-kata yang muncul dalam otak saya tapi banyak juga yang tidak sesuai dengan selera saya. Saya mau membuat judul yang seksi agar isi catatan saya ikut menjadi seksi karena judul. Ini mungkin terjadi karena kebiasaan saya jika akan menulis sebuah essay, yakni menulis judul dahulu baru kemudian menguraikan kata demi kata yang akan menjadi narasinya. Metode menulis yang menurut saya sendiri, lain cerita kalau orang lain menulis. Cukup merumuskan kerangka pikiran, dinarasikan, nanti judulnya belakangan. Tapi itu masalah selera. Selera bisa ditentukan sendiri-sendiri sekaligus membiarkan diri mengatur diri sendiri.

Kebetulan malam ini saya tertarik untuk menulis lagi. Kebetulan belum mengantuk. Padahal sudah hampir jam 2 malam. Sudah sangat larut untuk ukuran pelajar. Ini juga gara-gara saya minum kopi. Malam ini saja saya sudah menenggak dua gelas kopi. Kebetulan ada kopi Mamasa (Sulawesi Barat) yang diberikan teman minggu lalu. Dan kebetulan hasrat minum kopi saya lagi bagus maka jadilah demikian, tidak tau lagi nanti. Kemungkinan akan tambah satu gelas lagi.

Ini sedikit membuktikan kalau saya dan pikiran saya sedikit bandel dan rewel. Tidak mau di atur. Kalau begitu, itu namanya kepala batu. Namanya batu berarti fisiknya keras. Mungkin pikiran saya juga begitu. Tapi ini kembali lagi pada perkataan saya di atas, biarkan diri saya mengatur sendiri dan merasakan kebebasan. Kalau membiarkan diri kita sendiri diatur/didikte orang lain sama saja membiarkan diri sendiri di jajah. Bukan berarti menjadikan diri egois tetapi sesungguhnya mencoba membuat diri mandiri. Memang ada saatnya diri kita diatur oleh pihak lain seperti saat menyetujui sebuah consensus, menjadi bagian suatu system atau komuni. Kesemuanya itu membuat diri kita terikat pada sebuah ketentuan. Tapi ada bagian sendiri yang perlu diatur oleh diri sendiri. Pada posisi ini perlu ada equilibrium yakni keseimbangan diri dan keseimbangan kelompok.

Saya bilang rewel karena baru saja kemarin pagi saya banyak bercerita dengan keponakan saya sekaligus dikasi peringatan. Seorang mahasiswi juga. Dia adalah anak dari sepupu saya yang tertua. Dia panggil saya om, panggilan yang menurut saya membosankan. Kemarin saya menelfon dia untuk menanyakan kabar nenek saya yang sudah satu minggu dirawat di RSUD Kota Palopo. Kebetulan dia libur kuliah sehingga ada waktu menjaga nenek di rumah sakit. Kakek lebih tepatnya karena beliau adalah nenek laki-laki. Kalau kebiasaan orang Luwu-Toraja, untuk memanggil orang tua dari ayah dan ibu memakai kata “nenek”, baik laki-laki atau perempuan semuanya disebut “nenek”. Jadi beliau yang dirawat di RSUD Kota Palopo adalah adalah nenek saya sekaligus nenek buyut untuk keponakanku itu. Waktu saya telefon, dia tidak berada di RS, tapi sudah ada di Mangkutana. Dia cerita kondisi di RS tempat nenek dirawat. Menurut dia, sudah ada tiga orang yang meninggal dunia di bangsal tempat nenek saya dirawat. Satu persis yang posisinya disamping tempat tidur nenek. Dan dari cerita suster di sana, kebanyakan karena 3 penyebab utama yakni minum (miras), rokok dan terakhir kopi hitam. Dari situ saya diperingatkan supaya kurangi minum kopi hitam, cukup kopi mix atau kopi mocca dan sejenisnyalah. Apalagi merokok, sangat tidak dianjurkan. Memang kalau jadi pecandu kopi, dan minum kopi berlebihan bisa membahayakan diri sendiri. Kandungan koffeinnya bisa membunuh. Berpengaruh pada otak dan liver. Mbah Surip salah satu korbannya. Disitulah saya rewel. Diperingati justru tambah nakal. Tidak mau tahu. Semoga itu cukup buat hari kemarin. Hari ini dan esok harus lebih pintar mengatur diri sendiri. Semoga nenek juga cepat sembuh di sana.

Kontaminasi Tan Malaka
Beberapa hari lalu saya bongkar-bongkar semua isi perut computer jinjing saya. Kebetulan tidak ada kerjaan, jadi cari-cari kerjaan sendiri. Banyak file-file lama yang saya buka-buka. Saya termasuk orang yang suka menyimpan file yang sebenarnya sudah tidak berguna, sampah digital lebih tepatnya. Tidak masalah, yang penting data yang masih bisa menambah wawasan atau bisa mengingat-ingat kembali sebuah memory.

Ada beberapa tulisan PDF (portable document file) yang saya simpan dulu. Sudah bertahun-tahun tapi tetap saja belum terbaca semua. Halamannya hingga beratus-ratus. Kalau bacanya masih seperti baca buku cetak, baca sedikit demi sedikit, halaman demi halaman hingga selesai. Tapi karena bentuknya digital kadang sudah tidak teringat lagi, hingga menumpuk diantara jutaan arsip digital dalam hard disc. Mungkin seperti jarum dalam tumpukan jerami. Sangat beruntung kalau bisa ketemu.

Ternyata saya pernah simpan tulisan Lenin. Teorinya tentang Negara, revolusi dan kaitanya dengan Marx. Ada  juga tulisan Ishak Rafick yang mengurai catatan hitam lima Presiden Indonesia. E-booknya bagus. Isinya informative sekali. Saya sempat baca beberapa bagian saat itu perhatian saya langsung pada halaman judul “GBHN Super Dari Bawah Meja IMF”. Lagi-lagi tentang Orde Baru. Musuh bebuyutan kaum reformis.

Selain itu masih ada catatan tentang Soe Hok Gie, tulisan Ahmad Syafii Maarif, tulisan George J. Adichondro tentang Gurita Cikeas. Ada juga tentang Ki Ageng Suryomentaram, seorang filsuf atau guru pengetahuan jiwa dari Jogjakarta-Salatiga. Dan satu yang paling menarik bagi saya adalah tulisan Tan Malaka.

Beberapa hari lalu saya sempat membaca tulisan Tan Malaka. Siapa Tan Malaka, saya juga belum sepenuhnya kenal, hanya kenal sepintas dari tulisannya. Saya sangat terkesan saat mulai membaca pengantar tulisannya, terlebih saat masuk pada bab pertama. Bab pertama berjudul MADILOG, singkatan atau “jembatan kedelai” dari Matter-Dialektika-Logika.

Saat tulisan itu dibuat, Tan Malaka sangat berjuang keras. Saat itu tahun 1942 hingga tahun 1945. Saat peranng dunia berkecamuk. Tan Malaka menulisnya dalam pelarian-pelariannya. MADILOG menurut Tan Malaka ditulis pada acuan pustaka yang dengan susah payah dia bangun. Buku-buku koleksinya kadang disita oleh polisi Jepang (saat tinggal di Indonesia dan Singapura). Waktu mau memasuki tionkok, ada buku yang dibuang ke laut supaya tidak kedapatan saat pemeriksaan. Ada buku yan dibuang/disembunyikan di selokan saat pemeriksaan warga Tionghoa oleh tentara Jepang di Singapura. Menurutku, Tan Makala adalah pembelajar ulung dan pantang mundur. Buku adalah jiwanya. Buku adalah hidupnya. Dia lebih mementingkan membeli buku ketimbang membeli pakaian. Kalau urusan makan tidak boleh diganggu katanya (dalam pengantar MADILOG). Dari pembelajaran itu dia berhasil menyumbangkan buah pikiran untuk masyarakat bangsa. Dari sini terlihat bahwa kalau punya kerinduan memberikan sumbangsih pemikiran pada masyarakat maka perbanyaklah baca buku. Rangkumlah ilmu yang telah berkembang sebelumnya. Bukan dalam artian melumat mentah-mentah ilmu itu tapi menganalisisnya, mengartikulasikannya, menginterpretasi, menimbang kemudian menciptakan sebuah pemahaman/gagasan baru bagi ilmu pengetahuan. Lihat saja Soekarno dan Muh. Hatta. Ketika diasingkan, kedua founding fathers itu juga mengangkut berpeti-peti buku bacaan. Buku sebagai teman yang sekaligus memberikan inspirasi pembangunan peta Indonesia.

Waktu kecil saya juga senang baca buku. Dirumah saya (rumah orang tua pastinya) kebetulan banyak buku bacaan. Ya tentunya buku bacaan untuk anak sekolah. Di simpan dalam karton ukuran sedang, sebanyak empat atau lima karton. Hampir semuanya saya baca. Kebanyakan bicara tentang penanaman nilai-nilai kebersihan, sejarah, agama, lingkungan hidup hingga nilai-nilai kehidupan bermasyarakat. Tapi bacaannya masih ringan, untuk kelas SD dan SMP. Kebanyakan dikemas dalam bentuk ceritera hingga komik bergambar. Tapi yang bebentuk komik saya tidak suka baca. Setelah makan siang saya biasa tarik tiga buah buku untuk dibaca. Sudah bisa ditebak nantinya seperti apa. Buku pertama dibaca baru beberapa halaman kemudian mengantuk. Beberapa kali saya tiduri buku-buku itu. Kena marah lagi sama orang tua. Tapi kalau bukunya dirobek anak kecil malah tidak dimarahi. Hahahah…

Saya akui minat baca SD SMP saya cukup tinggi. Tapi waktu SMA sudah mulai berkurang. Sudah mulai dijejali sama ilmu-ilmu pasti yang menuntut nilai-nilai bagus (kalau mau pintar). Pasti akan banyak tugas. Banyak waktu belajar untuk persiapan pelajaran besok, persiapan tes atau karena memang hobi. Wew!. Ini bukan pamer tapi memang kehidupan anak SMA begitu. Selalu begitu. Nah sekaligus minat baca saya untuk pengetahuan-pengetahuan umum mulai pudar. Kenapa sampai begitu, saya juga belum tahu pasti sampai sekarang.

Saat berkuliah lebih parah lagi. Minat baca saya sangat menurun drastic. Buku yang saya baca habis masih bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki. Selebihnya hanya baca sebagian kecil, kemudian kalau sudah bosan tidak akan lanjut lagi. Paling-paling bukunya ditinggal terus hilang entah kemana. Bisa dipinjam teman kemudian lupa dikembalikan. Saya juga jadi malas mikirnya.

Kalau ingat SD SMP itu sangat senang. Tapi itu dulu, dulu sekali. Seperti biasa, kalau kita ingat romantisme masa lalu seakan akan bisa merasa fly. Terbius sama kejayaan masa lalu. Tapi kalau sudah lihat kondisi sekarang baru garuk-garuk kepala. Untuk kedepan masih belum tahu, setidaknya masih bisa diperbaiki. Semoga bisa. Di sini peranan untuk mengatur diri sendiri sangat penting. Equilibrium.

Setelah baca catatan perjuangan Tan Malaka baru sedikit tersadar. Terbangun dari kebiasaan buruk. Malas-malasan belajar. Saat Perang Dunia I berkecamuk, seorang Tan Malaka masih sempat ke toko buku. Masih sempat mencari buku Karl Marx dan mengumpatnya dari pemeriksaan tentara. Terasa habis ditampar sama tulisan Tan Malaka sendiri. Makanya kalau mau pintar.. belajar hahahah.. ini kata-kata saya sendiri. Sedikit menyontek dari kalimat iklan TV.

Kondisi sekarang ini semua tersedia. Fasilitas lengkap. Tidak perlu ada alasan untuk malas. Waktu sangatlah berharga, maka hargailah. Ilmu itu sangat bernilai, maka carilah ilmu. Mungkin itu catatan penting yang saya ambil dari tulisan pembuka Tan Malaka.

Integrasi Parsial
Sebelum membaca tulisan Tan Malaka. Ada banyak hal yang menjejali pikiran saya. Masih terus memikirkan nenek yang dirawat di RS. Sabat kemarin adalah kali kedua transfusi darah, karena menurut info dari sana, beliau kekurangan darah. Anemia. Belum lagi keluarga di Mangkutana yang juga masuk RS tapi syukurlah sudah keluar kemarin. Yang paling dominan menjejali pikiran saya adalah skripsi. Tapi tenang saja.. langkah tinggal sedikit. Di sini intinya adalah pandai mengatur diri. Dikerjakan sedikit demi sedikit pasti bisa. Tambah semangat saat bicara sama mama. Apalagi dapat ‘tiket’ untuk pulang dalam waktu dekat. Cihuy.. paling mantap kalau pulang kampung. Kalau hanya sampai Makassar sama saja bohong, mending tidak pulang sekalian. Tapi akhirnya saya dapat ‘tiket’ pulang sampai kampung halaman. Cihuy lagi..

Kemarin siang saya juga sempatkan diri ke warnet lihat-lihat berita. Ini sambil saya menunggu waktu mengantuk. Aneh yah, mengantuk kok ditunggu. Tapi seperti itulah kenyataannya. Kebetulan warnet dekat indekost saya. Jadi iseng saja main ke sana. Bukan main, tapi yang benar adalah menyewa warnet.

Pergolakan di Mesir masih menjadi headline news media nasional dan Internasional. Semenjak bergolak terus menerus direkam media kemudian disebarluaskan keseluruh dunia. Baca sebentar kemudian buka berita lain yang masih berkaitan. Pada prinsipnya saya secara pribadi mendukung perjuangan revolusi Mesir. Momentum tersebut hampir sama saat perjuangan reformasi di Indonesia melawan Orde baru. Perjuangannya adalah melawan dictator. Apalagi dictator yang didikte dunia barat, menjadikan bangsa sendiri objek eksploitasi capital barat. Itulah Hosni Mubarak, sama halnya dengan rezim Soeharto. Saya juga sempat menulis essay tentang pergolakan Mesir sebelum catatan saya ini saya buat.

Kemudian kembali lagi dihubungi paman dari Kalimantan. Lagi-lagi banyak ceritera. Untuk saat ini saya tidak ditanya ini itu. Jadilah pergolakan pikiran sendiri. Bercampur aduk menjadi satu dan saya sendiri mencoba menguasainya. Mengarahkannya dan mencoba menuntunnya pada satu koridor. Kebetulan baru habis baca tulisan singkat Spinoza, Blaise Pascal dan Kant. Semuanya boleh dibilang filsuf pada samannya. Dari mereka kita bisa banyak belajar tentang pandangan hidup. Eksistensi, rasio dan tuhan. Tuhan para filsuf dan tuhan para ilmuwan. Belajar sedikit-sedikit tentang filsafat ada juga gunanya, pikirku. Walaupun baru saja sedikit. Bagaimana kalau sudah banyak. Tapi kalau terlalu banyak bisa mabuk juga. Lihat saja kalau orang terlalu banyak menenggak vodka, bisa muntah-muntah jadinya atau terlalu banyak minum kopi, bisa pusing sendiri.

Menguasai pikiran dan menuntunnya adalah sebuah kebijaksanaan diri sendiri. Saya teringat pada teori kalkulus. Salah satu topiknya adalah integral parsial. Intergral artinya penyatuan dan parsial adalah bagian yang terpisah pisah. Secara praktis berarti penyatuan hal yang terpisah-pisah. Kalau sebuah formula (equation) yang kompleks, pasti akan terdiri dari beberapa elemen. Ada elemen basis, eksponen, derajat, pembilang, penyebut dan seterusnya. Semua elemen ini diintegralkan satu persatu (partisi demi partisi atau parsial demi parsial) kemudian jadilah satu kesatuan ingtegrasi. Integral dapat digunakan untuk menhitung luas bangun ruang (berbentuk tidak umum dan umum) atau menghitung volum sebuah objek. Bagaimana pembangunan formula dan penggunaan formula integral parsialnya, silahkan pelajari sendiri hehehehe…

Tulisan Tan Malaka sedikit memberikan pencerahan di sini. Secara umum tergambar pada judul tulisan ini. Universal Riemann. Dimanapun juga mungkin tidak akan ada arti judul tulisan ini karena saya sendiri yang memberinya. Sama seperti ketika Tan Malaka memberi judul MADILOG. Kalau tanpa  dijelaskan, siapapun juga pasti tidak akan tau maksud Madilog, kecuali Tan Malaka dan Tuhan. Universal Riemann adalah sebuah bentuk penyatuan segala sesuatu yang sama sekali terpisah-pisah. Riemannlah yang merumuskan konsep penyatuan itu. Tapi ingat, ini dalam konteks Matematika. Sebuah objek dimensi dua/dua dimensi tapi bentuknya tidak umum (bentuk umum seperti lingkaran, balok, bujursangkar dll) akan dihitung luasnya maka terlebih dahulu dipisah-pisah dalam bagian yang sangat kecil. Tapi itu satu rangkaian objek, artinya tidak ada bagian lain yang posisinya terpisah dari bagian utama. Nah, universal Riemann adalah penyatuan dari segala sesuatu yang sama sekali terpisah dan lebih kompleks lagi dari konsep Riemann.

Salatiga, 6 Februari 2011

Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op