Skip to main content

Sesaat di Makassar

Hanya sesaat. Itulah yang saya rasakan ketika menulis catatan ini. Bagi saya, sebagai parameter untuk boleh dikatakan lama tinggal di suatu tempat apalagi Makassar adalah bertahun-tahun atau seterusnya menetap di situ. Tapi apa yang terjadi saat saya menginjakkan kaki di Kota Makassar beberapa waktu lalu. Hanya 6 hari saya tinggal di sana. Padahal, kepala saya sudah banyak berisi rencana-rencana ke depan di Kota Makassar. 

Jl. Perintis Kemerdekaan ke arah kota.
Saya ke Makassar pada tanggal 28 Februari 2013 lalu. Tinggal (numpang) bersama keluarga di Asrama Lompobattang (Zipur), Jl. Rajawali. Hari-hari yang saya lalui di sana sangat menyenangkan karena itulah yang saya pikirkan ketika tinggal di Surabaya, menetap di Makassar.

Saya kembali ke Makassar setelah lebih dari setahun saya meninggalkannya. Bulan Januari tahun 2012 saya meninggalkan Kota Makassar dan merantau kembali ke Surabaya. Saat itu saya berfikir bahwa kemanapun saya mencari jalan dan kesempatan untuk meniti masa depan tidak menjadi masalah yang penting saya bisa  kembali ke Makassar.


Ketika mulai bekerja, saya di satu sisi senang bisa menunaikan tugas-tugas pekerjaan sambil mengunjungi beberapa daerah yang saya belum pernah datangi sebelumnya, misalnya sampai ke Palangkaraya beberapa bulan yang lalu. Namun tetap saya merasa bahwa semua itu tidaklah lengkap, selalau ada sesuatu yang hilang. Apa yang hilang itu bisa saya dapatkan ketika tinggal di Makassar. 

Pantai Losari dilihat dari arah barat.
Tak banyak yang perubahan yang saya lihat ketika kembali menginjakkan kaki di Makassar. Itu pendapat spontan saya yang tentu saja sangat subjektif. Saya juga belum menelusuri bagian-bagian Kota Makassar secara umum. Sementara yang saya lihat banyak berubah adalah daerah Pantai Losari. Di sekitaran Pantai Losari Makassar tengah dibangun anjungan yang memanjang di Jl. Penghibur mulai dari samping Hotel Makassar Golden hingga ke arah Jl. Metro Tanjung Bunga. Pantai Losari menghadap ke arah Barat (Selat Makassar) sehingga tempat ini menjadi tempat favorit warga Makassar pada sore hari untuk bersantai sembari menikmati pemandangan matahari tenggelam (sunset). Selain itu, daerah yang banyak berbenah yang saya lihat adalah daerah Tanjung Bunga ditandai dengan munculnya RS. Siloam di sana dan geliat pengembangan properti yang mulai menancapkan cakar. 

Kampanye.
Satu lagi, warga Kota Makassar saat ini sedang disuguhkan dengan polusi visual dari properti Balon Walikota Makassar periode 2014-2019. Properti-properti kampanye dari mereka yang mendaulat diri sebagai Balon Walikota Makassar yang potensial sangat beragam, mulai dari Baliho hingga stiker yang terpampang di belakang mobil angkutan kota (baca: petepete). Sepertinya euforia politik akan lama terasa di Kota Makassar mengingat baru saja diadakan Pilgub Sulsel pada tanggal 22 Januari 2013 lalu. Tahun depan (2014) warga Kota Makassar akan kembali memberi suara untuk memilih Walikota sekaligus menjadi tahun politik Indonesia dengan agenda Pemilu.

Itulah pemandangan Makassar yang saya nikmati ketika tinggal di sana selama 6 hari. Semuanya berubah ketika pada tanggal 4 Maret 2013 saya mendapat perintah dari kantor pusat tempat saya bekerja (Tangerang) bahwa saya harus berangkat ke Tangerang pada tanggal 6 Maret 2013. Senang dan sedih mendapat berita itu. 

Tanggal 6 Maret 2013 saya sudah meninggalkan Kota Makassar karena untuk sementara saya akan berada di tangerang dengan suatu tugas khusus. Selanjutnya akan berangkat ke Ambon, Maluku jika Tuhan berkehendak pada bulan April 2013.

Hidup ini memang bagian dari dinamika.

Tangerang, !! Maret 2013.

Comments

Popular posts from this blog

Ma' tutu nene'

Budaya orang Indonesia menekankan kepada setiap generasi agar mengetahui garis keturunannya hingga beberapa generasi ke belakang. Orang-orang tua akan menurunkan silsilah keluarga itu kepada anak-anaknya secara lisan. Inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat kekeluargaan masyarakat Indonesia sangat erat, dan menjadi ciri tersendiri dalam tatanan masyarakat global.  Warisan budaya lokal kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah kaya. Ditambah dengan kearifan lokal yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat sehari-hari semakin membuat kita bangga sebagai masyarakat Indonesia.  Tantangan bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Warisan budaya menjadi hal esensial untuk tetap kita jaga. Siapapun kita, baik birokrat ataupun sebagai penghulu adat.  Saya sendiri yang tumbuh dan berkembang dalam budaya Toraja sangat ditekankan untuk mengerti akan nilai-nilai budaya Toraja. Itu bukan menjadi pelajaran formal di sekolah tetapi se

Bangunan makam yang unik dari masyarakat Toraja

Halo semuanya, ini adalah tulisan ketiga yang saya kelompokkan ke dalam tulisan tentang budaya lokal, terkhusus mengenai masyarakat Toraja yang tinggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kali ini saya akan menulis kebiasaan masayarakat Toraja yang membangun makam bagi keluarga. Ini mungkin janggal kedengaran bagi sahabat blogger bahwa sebagian kecil/besar masyarakat Toraja membangun makan keluarga. Makam seperti ini secara umum di kenal dalam kalangan masayarakat Toraja dengan sebutan  ' patane ' atau ' patani '. Bangunan ' patane ' banyak variasinya, tapi secara umum desain dindingnya berupa bujursangkar atau persegi panjang. Bagian yang banyak divariasi adalah bagian atap. Salah satu 'patane' di daerah Kec. Bastem, Kabupaten Luwu. Courtesy of Joel Pasande 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 'patane' di daerah gunung Singki', Toraja Utara. Courtesy of Aswan Pasande. 

Menyusuri jalan Trans Sulawesi dari Poso ke Palu

Perjalanan darat yang cukup lama saya lalui selama ini di pulau Sulawesi adalah jalur Makassar – Palopo atau sebaliknya yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perjalanan. Waktu tersebut bisa menjadi sangat lama, atau bisa menjadi menyenangkan dengan sambil menikmati pemandangan selama perjalanan, tergantung bagaimana menikmati perjalanan tersebut.   Tanggal 26 Maret 2018 lalu saya berkesempatan menyusuri jalur darat yakni jalan Trans Sulawesi dari Kabupaten Poso ke Kota Palu. Kebetulan juga saya ada perjalanan dinas bersama beberapa rekan, dan atasan kami mengajak untuk melewati jalur darat. Saya menganggap jalur darat Poso-Palu ini cukup ringan, karena saya sejak kecil sudah terbiasa dengan jalur darat yang menantang, entah itu dari Palopo ke kampung saya, atau dari Palopo ke Toraja. Dalam benak saya, pengalaman jalur darat saya sudah banyak. Namun, dari informasi teman-teman di Poso jalur Trans Sulawesi dari Poso ke Palu rawan longsor, dan sering buka-tutup jalur. Pada saat Op